AALI
9975
ABBA
288
ABDA
7200
ABMM
1395
ACES
1370
ACST
202
ACST-R
0
ADES
3660
ADHI
890
ADMF
7600
ADMG
197
ADRO
2270
AGAR
350
AGII
1435
AGRO
1510
AGRO-R
0
AGRS
159
AHAP
72
AIMS
406
AIMS-W
0
AISA
177
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1140
AKRA
825
AKSI
795
ALDO
1320
ALKA
384
ALMI
294
ALTO
238
Market Watch
Last updated : 2022/01/14 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
509.74
0.24%
+1.24
IHSG
6693.40
0.53%
+35.05
LQ45
952.95
0.25%
+2.36
HSI
24383.32
-0.19%
-46.45
N225
28124.28
-1.28%
-364.85
NYSE
0.00
-100%
-17166.28
Kurs
HKD/IDR 1,832
USD/IDR 14,293
Emas
840,167 / gram

BI Sebut Sistem Keuangan di Sumut Membaik, Ini Faktornya

ECONOMICS
Wahyudi Aulia Siregar
Selasa, 26 Oktober 2021 10:25 WIB
Bank Indonesia menyatakan jika ketahanan sistem keuangan di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) semakin membaik
BI Sebut Sistem Keuangan di Sumut Membaik, Ini Faktornya (FOTO:MNC Media)
BI Sebut Sistem Keuangan di Sumut Membaik, Ini Faktornya (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Bank Indonesia menyatakan jika ketahanan sistem keuangan di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) semakin membaik. Hal tersebut berdasarkan pada sejumlah indikator yang menunjukkan perbaikan pada September 2021 lalu. 

Seperti pada tingkat profitabilitas Return on Assets (ROA) yang meningkat dan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang relatif menurun. Bahkan lebih rendah dibandingkan rasio sebelum pandemi. 

"Meski pada indikator lainnya, intermediasi perbankan Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat menurun didorong respon kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penurunan penyaluran kredit," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPw BI Sumut), Soekowardojo, Selasa (26/10/2021). 

Disisi lain, kredit tertahan (Undisbursed Loan) meningkat, didukung dengan peningkatan pada seluruh kelompok bank. 

Adapun spread bunga perbankan mencatatkan angka yang cukup stabil pada 5,4%, sedikit naik dibandingkan pada Triwulan II 2021 sebesar 5,1%, namun tetap sejalan dengan BI7DRRR yang masih di angka 3,5%. 

Soeko menjelaskan, meski secara nominal mencatat perbaikan dari p280 Triliun ke Rp285 Triliun, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga melambat (dari 12,35% ke 8,76%) didorong oleh penurunan pada seluruh kelompok perbankan serta seluruh jenis simpanan. ” Berdasarkan golongan nasabah, penurunan DPK didorong oleh seluruh golongan,” jelas Soeko. 

Hal ini didorong oleh Pemerintah yang diduga semakin optimal dalam melakukan belanja daerah dan perseorangan serta swasta yang diduga cenderung menyimpan simpanannya dalam bentuk lain. 

Penurunan DPK di seluruh kelompok juga mengindikasikan sudah mulai adanya kenaikan pada aktivitas dunia usaha yang didukung dengan penurunan tabungan Pemerintah akibat realisasi proyek yang dilakukan.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD