Menurut Eddy, keunggulan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia tidak boleh membuat industri berpuas diri. Transformasi berbasis inovasi dan teknologi menjadi kunci utama dalam menghadapi tuntutan global seperti perubahan iklim dan ekonomi sirkular.
"Kami meyakini bahwa sektor kelapa sawit memiliki posisi yang sangat strategis di dalam mewujudkan agenda pembangunan nasional. Kami meyakini bahwa riset bukan sekadar biaya, melainkan investasi strategis bangsa," kata dia.
BPDP, kata Eddy, mendorong peningkatan produktivitas melalui penerapan Precision Agriculture, mekanisasi, hingga penggunaan benih unggul. Langkah ini diambil agar petani dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan tanpa perlu melakukan ekspansi lahan yang berisiko mengganggu ekosistem lingkungan.
Eddy menambahkan soal tantangan ke depan tidak lagi diukur dari seberapa luas lahan, melainkan dari kemampuan menghasilkan nilai tambah.
"Ke depan keberhasilan industri sawit Indonesia tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas lahan yang kita miliki. Keberhasilan akan ditentukan oleh kemampuan kita untuk meningkatkan produktivitas dan di sinilah tantangan terbesar kita," tutur Eddy.
(NIA DEVIYANA)