AALI
8050
ABBA
222
ABDA
0
ABMM
805
ACES
1340
ACST
222
ACST-R
0
ADES
1825
ADHI
865
ADMF
8100
ADMG
154
ADRO
1290
AGAR
404
AGII
1190
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
300
AHAP
65
AIMS
374
AIMS-W
0
AISA
208
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
585
AKRA
3130
AKSI
476
ALDO
735
ALKA
234
ALMI
242
ALTO
374
Market Watch
Last updated : 2021/06/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
462.88
0.99%
+4.52
IHSG
6087.84
1.53%
+91.59
LQ45
868.47
1.11%
+9.54
HSI
28309.76
-0.63%
-179.24
N225
28884.13
3.12%
+873.20
NYSE
16411.98
1.66%
+268.03
Kurs
HKD/IDR 1,852
USD/IDR 14,400
Emas
823,703 / gram

Cerita Ibu Ketut, Bertahan dari Pandemi Covid dan Periwisata Bali yang Terpuruk

ECONOMICS
Michelle N/Sindonews
Jum'at, 11 Juni 2021 15:15 WIB
Pariwisata Bali masih terpuruk akibat pandemi covid-19, hal ini membuat masyarakat di sana butuh bantuan pemerintah.
Cerita Ibu Ketut, Bertahan dari Pandemi Covid dan Periwisata Bali yang Terpuruk (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Pariwisata Bali masih terpuruk akibat pandemi covid-19, hal ini membuat masyarakat di sana butuh bantuan pemerintah salah satunya dari dana Bantuan Sosial (Bansos).

Seperti yang diutarakan ibu Ketut. Ibu tiga anak itu tinggal di Jalan Kapten Japa, Dangin Puri Kelod, Kecamatan Denpasar Timur, Bali. Sebagai ibu rumah tangga, Ketut mengandalkan suaminya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Nasib kurang beruntung justru dihadapi suaminya. Selama satu setengah tahun suaminya sudah tidak bekerja kembali karena kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebelumnya, suaminya bekerja di sebuah restoran, namun tutup karena terdampak pandemi Covid-19. 

"Mulai Maret tahun lalu (PHK). Pariwisata tutup, sehingga tamu tidak ada yang datang ke Bali. Akhirnya tidak kerja lagi," keluh Ketut pada Jumat(11/6/2021).

Meskipun mengalami nasib kurang beruntung, namun Ketut mendapatkan rezeki lain. Ketut terpilih untuk berhak mendapatkan bantuan sosial tunai (BST) dari pemerintah. 

BST merupakan bantuan uang senilai Rp300 ribu dari Kementerian Sosial (Kemensos), yang disalurkan melalui PT Pos Indonesia (Persero) setiap bulan.

"Saya dikasih tahu oleh kepala desa, bahwa saya dapat bantuan BST. Disuruh ambilnya di kantor Pos. Ya sudah, saya kumpulkan KTP dan KK. Prosesnya berlangsung cepat," kata Ketut. 

Dalam proses pencairannya, Ketut pergi bersama suaminya. Tidak lupa juga dia tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes), dengan membawa masker dan hand sanitizer.  

Beras, menjadi komoditas utama yang dibeli Ketut ketika BST sudah cair. Ketut pertama kali mendapatkan BST sebesar Rp600 ribu (dirapel dua bulan). 

Bantuan ini sangat terasa manfaatnya, terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan adanya BST, dia tidak pusing untuk menghidupi ketiga anaknya.

"Anak saya yang pertama baru saja mendapatkan kerja. Yang kedua baru 22 tahun, masih kuliah. Ketiga baru 20 tahun. Namun dia tidak mau kuliah karena tidak ada biaya," katanya. 

Untuk tahun ini, terakhir kali Ketut mendapatkan  BST pada April lalu. Setelah April, BST sempat diumumkan tidak akan dilanjutkan lagi. Namun, pemerintah kembali memutuskan untuk memperpanjang selama dua bulan.

Sayangnya, BST itu belum kunjung cair karena masih dibahas oleh pemerintah. Padahal, Ketut bersama KPM lainnya sudah menantikan bantuan tersebut. Kesulitan memenuhi kebutuhan hidup selama dua bulan sangat terasa.

"Kami belum menerima juga. Masih menunggu," ujar Ketut.

Ketut memohon kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Mensos Tri Rismaharini untuk segera mencairkan BST tersebut. Pemenuhan kebutuhan untuk bertahan hidup, dirasanya sudah sangat mendesak. Ditambah, situasi di Bali yang masih belum normal.

"Pak Jokowi dan ibu Mensos. Saya butuh sekali bantuan bapak untuk segera mencairkan BST. Warga Bali sudah gak ada pemasukan ekonomi. Sepi Sekali. Tolonglah pak," katanya. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD