AALI
8400
ABBA
590
ABDA
0
ABMM
1200
ACES
1290
ACST
248
ACST-R
0
ADES
2800
ADHI
905
ADMF
7700
ADMG
216
ADRO
1500
AGAR
356
AGII
1395
AGRO
2570
AGRO-R
0
AGRS
228
AHAP
70
AIMS
336
AIMS-W
0
AISA
202
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
4130
AKSI
414
ALDO
730
ALKA
254
ALMI
238
ALTO
324
Market Watch
Last updated : 2021/09/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
460.94
0.12%
+0.54
IHSG
6144.82
0.03%
+2.10
LQ45
866.25
0.09%
+0.74
HSI
24192.16
-1.3%
-318.82
N225
30248.82
2.06%
+609.42
NYSE
0.00
-100%
-16352.18
Kurs
HKD/IDR 1,828
USD/IDR 14,245
Emas
803,749 / gram

Cerita Pengusaha Garmen: Penjualan Drop, Toko Terancam Disegel

ECONOMICS
Michelle Natalia
Kamis, 29 Juli 2021 22:25 WIB
Pandemi covid hingga PPKM Level 4 yang diberlakukan pemerintah berdampak besar bagi usaha para pengusaha garmen dan tekstil.
Cerita Pengusaha Garmen: Penjualan Drop, Toko Terancam Disegel (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Pandemi covid hingga PPKM Level 4 yang diberlakukan pemerintah berdampak besar bagi usaha para pengusaha garmen dan tekstil.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran mengatakan bahwa kondisi pedagang pasar saat ini sangat memprihatinkan. Khususnya, adalah pedagang pasar kalangan kebutuhan sekunder seperti garmen, tekstil, aksesoris, dan yang lainnya.

"Kalau pedagang kebutuhan harian, seperti kebutuhan dapur masih ada yang beli meski sedikit, sementara pedagang kebutuhan sekunder hanya bisa jadi 'penonton'," ujar Ngadiran kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Kamis(29/7/2021). 

Dia menyebutkan, pendapatan pedagang pun sudah sangat drop sekali. Terlebih lagi, pembeli di pasar tradisional mayoritas berasal dari masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. 

"Yang memprihatinkan dalam kondisi saat ini, daya beli drop tetapi pembayaran retribusi harus berjalan. Kalau tidak bayar, atau menunggak, tokonya diancam disegel, hingga dibatalkan hak pakainya," terang Ngadiran.

Dia mencontohkan pedagang-pedagang di Pasar Tanah Abang yang menggelar spanduk meminta pembebasan bayar retribusi. Toko-toko pun sudah banyak yang kosong dan tutup, dan meski buka, yang membeli nol. 

"Kita ke pasar belum tentu dapat pelaris, yang pasti keluar ongkos dan bayar parkir di pasar tradisional sekarang mahal sekali, dibandingkan mall lebih murah di mall. Itu dampak aturan baru perparkiran di pasar tradisional yang dikelola oleh swasta," keluh Ngadiran. 

Bahkan, banyak pedagang yang sulit melunasi utangnya ke koperasi pasar karena tidak ada pemasukan. "Saya sebagai ketua Koperasi Pasar (Koppas) sangat merasakan, anggota atau pedagang yang utang sudah tidak bisa bayar karena makan saja sudah sulit, sementara Koperasi Pasar pun utangnya dari bank," pungkasnya. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD