Kenaikan stok tersebut terutama ditopang oleh peningkatan penyerapan beras produksi dalam negeri. Pada Maret 2024 realisasi pengadaan beras domestik tercatat sekitar 24,6 ribu ton, sedangkan pada Maret 2025 meningkat menjadi 610,2 ribu ton.
Menurut Amran, kuatnya cadangan beras pemerintah turut berkontribusi terhadap stabilitas harga pangan, khususnya selama bulan Ramadan. Ia menekankan bahwa beras kini tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi seperti yang sering terjadi dalam satu hingga dua dekade terakhir.
"Alhamdulillah, bulan suci Ramadan, bukan harga beras menjadi penyumbang inflasi. Dan 10 sampai 20 tahun terakhir, biasanya nomor satu penyumbang inflasi adalah beras," ungkap Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan inflasi beras secara bulanan sampai Februari 2026 berada di 0,43 persen. Ini masih lebih rendah dibandingkan puncak inflasi beras tertinggi selama setahun dalam beberapa tahun terakhir.
Inflasi beras tertinggi pada 2022 ada di Desember dengan 2,30 persen. Sementara pada 2023 inflasi beras tertinggi terjadi di September dengan 5,61 persen. Sementara 2024 dan 2025 masing-masing 5,28 persen di Februari 2024 dan 1,35 persen di Juli 2025.