Selain berakhirnya momentum Ramadan dan Lebaran, perlambatan di paruh kedua juga dipengaruhi oleh penyesuaian tempo belanja pemerintah guna menjaga batas defisit fiskal, serta potensi tingginya impor energi akibat penguatan harga minyak mentah dunia.
"Pasokan memang sangat penting meski biayanya akan tinggi. Hal-hal inilah yang kami perkirakan menjadi alasan mengapa laju pertumbuhan pada semester kedua tahun ini mungkin akan sedikit melambat," ujar Radhika.
Adapun untuk 2027, DBS Bank memilih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada rentang 5,2 hingga 5,3 persen. Penopang utama pertumbuhan masih digantungkan pada konsumsi dan permintaan dalam negeri di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global.
"Karena itulah kami mengandalkan pendorong permintaan domestik untuk menggerakkan pertumbuhan di kisaran 5,2-5,3 persen lagi pada tahun 2027," kata Radhika.
(NIA DEVIYANA)