AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Airlangga Beberkan Sejumlah Program PEN Andalan Pemerintah

ECONOMICS
Indah/IDX Channel
Rabu, 25 Agustus 2021 08:50 WIB
Pemerintah sangat berkomitmen dalam menangani Covid-19 dari sisi kesehatan yang seimbang dengan pelaksanaan berbagai Program PEN.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Airlangga Beberkan Sejumlah Program PEN Andalan Pemerintah (Dok.MNC Media)
Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Airlangga Beberkan Sejumlah Program PEN Andalan Pemerintah (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Sejumlah strategi pemerintah dalam memulihkan perekonomian nasional terus menunjukkan hasil yang membaik dari waktu ke waktu. Pemerintah sangat berkomitmen dalam menangani Covid-19 dari sisi kesehatan yang seimbang dengan pelaksanaan berbagai Program PEN.

Hal ini berpengaruh terhadap permintaan domestik yang tercermin dari Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 5,93% (yoy), dan juga direspon dengan peningkatan kapasitas produksi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 7,54% (yoy). 

Perbaikan permintaan global juga menjadi stimulus tambahan sehingga ekspor dan impor dapat tumbuh tinggi masing-masing sebesar 31,78% dan 31,22% (yoy). Momentum pemulihannya terlihat di Triwulan II-2021, sejalan dengan pemulihan ekonomi global, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 7,07% (yoy). Persentase tersebut merupakan yang tertinggi sejak krisis sub-prime mortgage dan lebih tinggi daripada beberapa negara peers yang telah merilis angka pertumbuhannya, seperti Vietnam (6,6%) dan Korea Selatan (5,9%).

“Momentum perbaikan ini sangat bergantung terhadap usaha kita bersama dalam menangani Covid-
19. Sinergi yang baik antara kebijakan ekonomi dan kesehatan dengan didukung oleh seluruh
stakeholders akan memastikan pemulihan ekonomi segera kembali menguat pasca merebaknya
varian Delta. Selain itu, reformasi struktural akan menjadi kunci utama dalam mewujudkan ekonomi
berkelanjutan dalam jangka panjang,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga
Hartarto dalam acara Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) APINDO ke-31 bertema
“Upaya Bersama Memutus Pandemi Covid-19 dan Membangkitkan Ekonomi”, secara virtual di Jakarta,
Selasa (24/8).

Dalam rangka menjaga tren pemulihan ekonomi di Triwulan III-2021, Program PEN akan terus
ditingkatkan dan tetap menjadi instrumen utama penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi.
Komitmen Pemerintah ditunjukkan melalui refocusing Anggatan Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) dan meningkatkan anggaran Program PEN 2021 hingga saat ini telah mencapai sebesar
Rp744,77 triliun.

Akselerasi realisasi anggaran terus diupayakan, per 20 Agustus 2021, Program PEN telah terealisasi
sebesar Rp326,16 triliun. Dari klaster insentif usaha telah terealisasi sebesar 81,8% atau Rp51,39
triliun dari pagu sebesar Rp62,83 triliun. Realisasi anggaran dan program tersebut telah memberikan
manfaat antara lain untuk pemberian insentif PPh 21 DTP untuk 73.970 pemberi kerja; insentif PPh
Final UMKM DTP untuk 116.979 UMKM; Penurunan Tarif PPh Badan; dan sebagainya.

Refocusing APBN dan PEN juga diarahkan untuk mendukung optimalisasi pelaksanaan PPKM melalui
peningkatan anggaran berbagai perlindungan sosial (perlinsos), seperti percepatan pencairan BansosHM.4.6/233/SET.M.EKON.3/08/2021 Tunai, peningkatan jumlah penerima dan manfaat Kartu Sembako, melanjutkan Program Diskon Listrik, penambahan anggaran Kartu Pra Kerja dan Bantuan Subsidi Upah (BSU).


“Keberlangsungan sektor usaha juga menjadi fokus utama Pemerintah. Serangkaian insentif fiskal
telah diberikan untuk mendongkrak kinerja sektor usaha. Selain itu, untuk pelaku UMKM, dukungan
terus diberikan melalui tambahan Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) dan Bantuan pedagang kaki
lima (PKL) atau warung kecil, perluasan program penjaminan kredit, tambahan subsidi bunga baik
KUR dan Non KUR, serta penambahan plafon KUR 2021 menjadi Rp285 triliun,” papar Menko
Airlangga.

BSU juga telah dianggarkan untuk 8,8 juta pekerja di sektor non kritikal di PPKM level 3 dan 4, di mana
masing-masing akan menerima Rp1 juta dan akan disalurkan dalam 5 tahap. Sementara BPUM
ditargetkan dapat tersalurkan sebesar Rp3,6 triliun kepada 3 juta peserta baru dan Bantuan PKL
ditargetkan dapat tersalurkan sebesar Rp1,2 triliun kepada 1 juta peserta baru di Triwulan III-2021 ini.
Selain itu, dukungan tambahan dalam menjaga daya beli masyarakat juga diberikan melalui Kartu
Prakerja. Selama Semester I-2021, Kartu Prakerja telah diberikan kepada 2,77 juta penerima insentif
dengan total insentif sebesar Rp6,53 triliun di 514 kabupaten/kota.


Mengingat potensi risiko perluasan dampak Covid-19 dapat berlanjut hingga 2022, Pemerintah
berkomitmen melanjutkan Program PC-PEN di 2022. Program tersebut akan difokuskan kepada
penanganan kesehatan dan perlinsos.

Selain itu, Pemerintah juga berkomitmen untuk melakukan reformasi struktural melalui implementasi
UU Cipta Kerja. Salah satu implementasi UU Cipta Kerja adalah sistem pengurusan perizinan berbasis
risiko (OSS-RBA) yang telah diluncurkan pada 9 Agustus 2021. Pemerintah juga telah membentuk
Lembaga Pengelola Investasi (LPI) untuk meningkatkan dan mengoptimalkan investasi yang dikelola
dalam jangka panjang sehingga dapat mendukung pembangunan secara berkelanjutan.

Berbagai upaya tersebut akan membantu memperkuat kembali momentum pemulihan ekonomi
sehingga diharapkan dapat kembali tumbuh ekspansif di Triwulan IV-2021. Ekonomi Indonesia
diproyeksikan dapat tumbuh di kisaran 3,7%-4,5% di akhir 2021, dan tumbuh di kisaran 5,0%-5,5% di
2022 apabila kondisi pandemi sudah semakin membaik.

“Untuk mewujudkan transformasi ekonomi dan keberlanjutan ekonomi paska pandemi, serta
meningkatkan daya saing investasi Indonesia, kita lakukan reformasi struktural. Pertumbuhan ekonomi
tinggi diperlukan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat di
tengah peningkatan tingkat pengangguran dan kemiskinan pada masa pandemi ini, serta untuk keluar
dari middle income trap dalam jangka menengah panjang,” pungkas Menko Airlangga. 

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD