AALI
8900
ABBA
230
ABDA
7075
ABMM
845
ACES
1415
ACST
252
ACST-R
0
ADES
1915
ADHI
1005
ADMF
8250
ADMG
163
ADRO
1315
AGAR
422
AGII
1125
AGRO
1135
AGRO-R
0
AGRS
470
AHAP
68
AIMS
380
AIMS-W
0
AISA
238
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3200
AKSI
535
ALDO
930
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
382
Market Watch
Last updated : 2021/06/11 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
482.65
-0.44%
-2.14
IHSG
6095.50
-0.2%
-12.04
LQ45
901.64
-0.42%
-3.77
HSI
28842.13
0.36%
+103.25
N225
28948.73
-0.03%
-9.83
NYSE
0.00
-100%
-16620.00
Kurs
HKD/IDR 1,826
USD/IDR 14,188
Emas
866,552 / gram

Dua Penyebab Pendapatan Industri Pertahanan RI Sangat Rendah

ECONOMICS
Suparjo Ramalan/Sindonews
Senin, 17 Mei 2021 11:35 WIB
Pendapatan industri pertahanan Indonesia sangat rendah bila dibandingkan negara-negara lain.
Dua Penyebab Pendapatan Industri Pertahanan RI Sangat Rendah (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Pendapatan industri pertahanan Indonesia sangat rendah bila dibandingkan negara-negara lain. Setidaknya ada dua penyebab mengapa penghasilan bisnis peralatan perang ini minim.

Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Bobby Rasyidin mengungkapkan, dua tantangan besar industri pertahanan nasional. Tantangan itu yang menyebabkan income atau pendapatan bisnis alutsista Indonesia masih tercatat rendah bila dibandingkan negara lainnya. 

Pendapatan bisnis alutsista dalam negeri mencapai Rp 14,5 triliun per tahunnya. Sementara industri pertahanan di negara lain bisa meraup Rp 800 triliun-Rp 900 triliun per tahun.

Ketidakpastian pembelian alutsista jangka panjang dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) merupakan salah satu sebab minimnya pendapatan industri persenjataan Indonesia. 

Meski demikian, kata Bobby, Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto tengah memperbaiki skema pengadaan dan pembelian alutsista TNI dari BUMN Pertahanan tersebut. 

"Ada beberapa tantangan terbesar, satu adalah ketidakpastian pembelian jangka panjang dari Kementerian Pertahanan. Dan ini sudah menjadi PR (pekerjaan rumah) besar yang sedang diperbaiki oleh Kemenhan, dimana, nanti kebutuhan tidak hanya dimunculkan tahun per tahun," ujar Bobby, Senin (17/5/2021). 

Tantangan kedua adalah perubahan standarisasi teknologi alutsista. Pada aspek ini, Len Industri menilai tidak ada rumusan baku perihal standarisasi teknologi alutsista menyebabkan proses produksi persenjataan menjadi berubah-ubah.

Perkara ini pun menjadi perhatian Kemenhan dan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Rencananya, KKIP, Kemhan, dan Len Industri akan merumuskan satu standar baku perihal teknologi persenjataan nasional. 

KKIP sendiri merupakan komite yang mewakili pemerintah untuk mengkoordinasikan kebijakan nasional dalam perencanaan, perumusan, pelaksanaan, pengendalian, sinkronisasi, dan evaluasi industri pertahanan di dalam negeri. 

"Kedua adalah standarisasi dari teknologi yang suka berubah ubah, ini menjadi perhatian dari Kemhan dan KKIP, hingga nanti dibuatkan satu standar atau patokan teknologi akan seperti apa, dan tentunya kami sangat berperan sekali untuk membantu KKIP atau kemhan untuk merakit atau membuat standarisasi dari teknologi ini," tutur dia.  (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD