IDXChannel - Sejak bioskop dimumkan mulai dibuka pada 14 September 2021 oleh Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa dan Bali Luhut Binsar Pandjaitan, pengelola bioskop tidak langsung merespon dengan membuka bioskopnya. Mereka butuh waktu, adaptasi terutama para pegawai yang mulai masuk.
Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin mengatakan dibutuhkan persiapan matang, membuka dan mengoperasikan bioskop. “Itu pembukaan tidak bisa dadak-dadakan. Kita dapat kepastian pembukaan pada 14 September, sedangkan persiapan dikasih waktu 3-4 hari sebelum pembukaan,” ucap Djonny.
Djonny menyebut selama tidak beroperasi, kerugian yang dialami pengelola bioskop cukup besar. Sedikitnya sebanyak 15 ribu pekerja bioskop terdampak langsung. Ada yang dirumahkan, hingga berhenti bekerja. Menurut Djonny, Tercatat data perbulan untuk kerugian setiap satu bioskop sebesar Rp150 Juta kemudian selama Bioskop tidak beroperasi secara keseluruhan pihaknya mencatat sebesar Rp1 Triliun dan satu jaringan Bioskop dengan nilai yang sama.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pengetatan mulai diperlonggar dengan prokes ketat. Perlahan bioskop mulai didatangi para penggemarnya. Jika di awal-awal, kapasitas buka bioskop 50% memanfaatkan aplikasi peduli lindungi masih belum memuaskan, sebab, tahap awal atau pekan pertama diumumkan 13 September, bioskop dibatasi hanya untuk orang dewasa. Artinya, anak-anak dibawah 12 tahun belum bisa masuk bioskop. Tapi sekarang, sejak 20 September 2021, pemerintah mulai membuka penggemar layar raksasa ini untuk usia 12 tahun ke bawah.
Sementara itu di pasar modal, emiten bioskop PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) mulai membuka jaringan bioskopnya sejak 17 September 2021, sebanyak 45 bioskop, hal tersebut nyatanya membawa sentiment positif dimana saham terkerek melesat 20 persen sepanjang perdagangan Selasa (21/9/2021).