"Ketika kita hanya membaca angka rata-rata, kita seperti kapten yang hanya memeriksa dek atas, lalu menyimpulkan semua penumpang aman. Kita harus bertanya, tabungan siapa yang meningkat, dan tabungan siapa yang habis," tambahnya.
Mengutip data Reuters, Achmad menyoroti penurunan porsi kelas menengah dari 21,5 persen pada 2019 menjadi 17,1 persen pada 2024. Hal ini dinilai kritis karena kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah menyumbang hingga 81,49 persen dari total konsumsi masyarakat nasional.
Dampaknya sudah mulai terasa pada berbagai sektor bisnis seperti ritel non-pangan, otomotif, dan restoran yang merasa penjualan tidak lagi segarang dulu. Ia memperingatkan bahwa jika kondisi ini menjadi struktural, di mana pendapatan riil tidak mengejar biaya hidup, maka kualitas manusia Indonesia dalam jangka panjang akan terancam.
Dengan kondisi itu, Achmad menilai pemerintah tidak sekadar merayakan kenaikan angka tabungan sebagai stabilitas likuiditas perbankan.
Dia pun merekomendasikan tiga langkah kunci untuk mengatasi hal tersebut. Pertama, menjaga daya beli masyarakat menengah yang rentan agar tidak jatuh lebih dalam.