Enrico dalam kajiannya mengungkapkan, jika dilihat dari sisi marketnya, dengan jumlah penduduk mencapai 279 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang besar. Apalagi dari jumlah tersebut, sekitar 24 persennya adalah kelompok menengah yang menyumbang 56 persen terhadap konsumsi nasional.
Sekadar informasi, BPS belum lama ini merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 yakni sebesar 5,29 persen secara tahunan. Adapun pada kuartal I-2026, ekonomi nasional tumbuh lebih tinggi sebesar yakni 5,61 persen. Dari sisi pengeluaran, pada kuartal I-2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen secara tahunan, sedangkan konsumsi pemerintah meningkat 21,81 persen.
"Konsumsi pemerintah itu tidak dapat terus-menerus menjadi tumpuan pertumbuhan karena ada keterbatasan ruang fiskal. Karena itu, sumber pertumbuhan lain perlu semakin diperkuat" katanya.
Adapun penopang pertumbuhan lain yang bisa dimaksimalkan, ujar Enrico, adalah ekspor. Menurutnya, dengan nilai tukar rupiah yang cenderung melemah, hal itu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja ekspor dengan mengalakkan sektor usaha yang berbasis lokal tetapi punya pasar di luar negeri.
(NIA DEVIYANA)