IDXChannel - Bank Indonesia (BI) menilai kondisi ekonomi domestik Indonesia masih cukup kuat, ditopang oleh perputaran uang, pertumbuhan kredit serta kebijakan moneter yang akomodatif.
Kondisi ini diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa memicu tekanan inflasi. Di mana inflasi diperkirakan tetap terkendali di sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
"Dorongan pertumbuhan ekonomi ke depan ini tidak akan mendorong inflasi," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam acara Starting Year Forum 2026, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Destry menjelaskan, indikator sistem pembayaran menunjukkan tingginya velocity of money, yang menandakan aktivitas transaksi dan perputaran uang tetap berjalan.
Selain itu, perbaikan pada sisi intermediasi perbankan mulai terlihat. Di mana kredit per Desember 2025 tercatat tumbuh 9,6 persen, dengan porsi terbesar berasal dari kredit investasi.
“Ini yang kami harapkan bisa menstimulasi ekonomi,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2025 yang berada di rentang 4,7 persen hingga 5,5 persen.
Menurut Destry, ruang pertumbuhan ekonomi masih terbuka lebar karena ekonomi nasional saat ini masih bergerak di bawah potensi optimalnya.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus stabilitas, BI menerapkan bauran kebijakan yang mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, yang didukung pendalaman pasar uang serta kebijakan ekonomi dan keuangan hijau.
Dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan likuiditas, BI juga aktif melakukan ekspansi likuiditas melalui Kredit Likuiditas sebesar sekitar Rp388 triliun, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Bank Indonesia punya komitmen untuk masuk dan menyediakan likuiditas guna menggerakkan perekonomian," tutur Destry.
(DESI ANGRIANI/ Nasywa)