“Kami melihat belanja fiskal yang meningkat tajam di akhir tahun menjadi faktor kunci yang mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai level tertinggi sejak 2022,” kata Andry.
Pemerintah juga tercatat mengguyur stimulus fiskal sebesar Rp37,4 triliun yang mencakup bantuan langsung tunai (BLT), diskon libur akhir tahun, hingga program magang guna menjaga daya beli masyarakat.
Selain belanja negara, sektor investasi menunjukkan taringnya dengan proyeksi pertumbuhan 6,3 persen. Hal ini terkonfirmasi dari melonjaknya impor barang modal sebesar 22,9 persen dan pulihnya sektor konstruksi yang terlihat dari pertumbuhan penjualan semen.
“Dari sisi investasi, lonjakan impor barang modal dan mulai pulihnya sektor konstruksi menjadi sinyal positif menguatnya pembentukan modal tetap bruto,” kata Andry.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung dengan pertumbuhan 5,0 persen, didukung oleh maraknya aktivitas ritel dan mobilitas masyarakat selama masa liburan.