AALI
9950
ABBA
292
ABDA
6725
ABMM
1400
ACES
1350
ACST
198
ACST-R
0
ADES
3680
ADHI
840
ADMF
7600
ADMG
194
ADRO
2270
AGAR
364
AGII
1465
AGRO
1480
AGRO-R
0
AGRS
151
AHAP
71
AIMS
412
AIMS-W
0
AISA
176
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1130
AKRA
805
AKSI
740
ALDO
1385
ALKA
358
ALMI
300
ALTO
226
Market Watch
Last updated : 2022/01/17 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.42
-0.45%
-2.32
IHSG
6655.83
-0.56%
-37.57
LQ45
948.42
-0.48%
-4.53
HSI
24243.89
-0.57%
-139.43
N225
28362.45
0.85%
+238.17
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,835
USD/IDR 14,305
Emas
836,242 / gram

Erick Thohir Blak-blakan Dapat Tekanan Saat Usut Korupsi Jiwasraya dan Asabri

ECONOMICS
Suparjo Ramalan
Selasa, 23 November 2021 10:43 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir mengaku mendapat tekanan dari sejumlah pihak akibat komitmennya mengusut kasus korupsi di Jiwasraya dan Asabri.
Menteri BUMN Erick Thohir mengaku mendapat tekanan dari sejumlah pihak akibat komitmennya mengusut kasus korupsi di Jiwasraya dan Asabri. (Foto: MNC Media)
Menteri BUMN Erick Thohir mengaku mendapat tekanan dari sejumlah pihak akibat komitmennya mengusut kasus korupsi di Jiwasraya dan Asabri. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Menteri BUMN Erick Thohir mengaku mendapat tekanan dari sejumlah pihak akibat komitmennya mengusut kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau Asabri.

Menurutnya, tekanan tersebut datang dari banyak pihak. Meski begitu Erick enggan membeberkan tekanan yang dimaksud hingga identitas pelakunya. 

"Empati saya, hati saya gak bisa ketika pensiun itu uangnya dirampok, dan saya mendapat tekanan yang luar biasa, tetapi ya kembali ketika saya laporkan ke Presiden (Joko Widodo), Bapak Presiden bilang jalankan," ujar Erick, dalam sesi wawancara di akun Youtube Akbar Faizal Uncensored, dikutip Selasa (23/11/2021).

Dia juga mencatat, masih ada 17 tuntutan yang diajukan beberapa pihak ke Mahkamah Agung (MA) perihal kasus korupsi kedua perusahaan pelat di sektor perasuransian tersebut. Salah satu pernyataan dalam tuntutan itu bahwa aset-aset Jiwasraya diklaim sudah berpindah tangan.

Namun, tuntutan itu diragukan Jaksa Agung. Pasalnya, ada bukti transaksi yang dilakukan sejumlah oknum yang memanfaatkan aset perseroan untuk kepentingan pribadi. 

"Ya banyak pihak (tekanan). Oh ya, Pak Jaksa Agung di MA aja masih ada 17 tuntutan di MA, dimana, bahwa mereka bilang aset-aset di Jiwasraya itu sudah pindah tangan, tapi Pak Jaksa Agung bilang 'pindah tangan ke mana? Saya melihat ini ada transaksinya, di belakang siapa' Sekarang ini eranya sudah terbuka ada PPATK, semua mengawasi," tutur Erick.

Saat ini, Jaksa Agung St Burhanuddin tengah mengkaji hukuman mati bagi para terdakwa kasus mega korupsi Asabri dan Jiwasraya. Hal itu didasarkan atas kerugian negara dalam kasus tersebut yang mencapai triliunan rupiah.

Burhanuddin melalui keterangan yang disampaikan Kapuspenkum Kejaksaan Agung Leonard Eben Ezer Simanjuntak, mengaku sangat prihatin atas kerugian akibat korupsi kasus Jiwasraya yang mencapai Rp16,8 triliun dan Asabri sebesar Rp22,78 triliun.

"Hal itu sangat berdampak luas pada masyarakat dan para prajurit. Perkara Jiwasraya menyangkut hak-hak orang banyak dan hak-hak pegawai dalam jaminan sosial, demikian pula perkara korupsi di Asabri terkait dengan hak-hak seluruh prajurit di mana ada harapan besar untuk masa pensiun dan untuk masa depan keluarga mereka di hari tua," kata Burhanuddin.

Atas kasus tersebut, Burhanuddin mengaku akan mengkaji ulang kemungkinan penerapan hukuman mati kepada para terdakwa kasus korupsi. Dia menilai hal itu sebagai upaya memberikan efek jera kepada para koruptor. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD