Dari global, ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan, kembali naiknya harga minyak, serta perlambatan tajam di negara-negara mitra dagang utama Indonesia berpotensi menjadi risiko penurunan utama bagi prospek jangka pendek.
“Jika dukungan fiskal dikurangi untuk mempertahankan target defisit, tekanan terhadap Bank Indonesia (BI) dapat meningkat untuk bisa menopang pertumbuhan melalui kebijakan bank sentral, sejalan dengan mandat kebijakannya yang luas,” ujarnya.
Keberlanjutan institusional di Bank Indonesia seharusnya mendukung sentimen pasar, meskipun kepercayaan kemungkinan masih rapuh. Pencalonan Destry Damayanti sebagai satu-satunya kandidat gubernur oleh Presiden Prabowo Subianto, bersamaan dengan pencalonan pejabat internal bank sentral untuk posisi senior lainnya, memperkuat ekspektasi terhadap kesinambungan kebijakan.
Pencalonan tersebut, sejauh ini telah membantu meredakan tekanan terhadap rupiah, tetapi kemungkinan belum cukup untuk menghilangkan kehati-hatian investor.
Pelaksanaan kebijakan lainnya juga akan menentukan apakah sinyal kesinambungan kebijakan baru-baru ini dapat dipertahankan. Fokus pemerintahan terhadap langkah-langkah pemberantasan korupsi dapat mendukung kelayakan kredit apabila berhasil memperkuat tata kelola dan akuntabilitas. Namun, langkah tersebut dapat berdampak negatif terhadap kredit apabila pemberantasan korupsi dipersepsikan hanya diterapkan secara selektif dan justru berkontribusi terhadap semakin kuatnya sentralisasi politik.