Said menerangkan, efek buruk perselisihan global tersebut merembet ke dua klasifikasi industri nasional secara bersamaan. Kategori pertama mencakup pabrik berorientasi ekspor seperti garmen dan alas kaki yang terpukul oleh merosotnya angka permintaan dari pasar internasional.
Sementara kategori kedua adalah manufaktur yang bersandar pada pasokan impor, lantaran dipaksa memikul lonjakan beban produksi akibat melambungnya harga komoditas global.
"Sebaliknya, perusahaan yang bahan bakunya impor mengalami lonjakan ongkos produksi karena harga bahan baku ikut naik," ujarnya.