AALI
9725
ABBA
302
ABDA
5825
ABMM
1370
ACES
1255
ACST
184
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
175
ADRO
2310
AGAR
360
AGII
1430
AGRO
1275
AGRO-R
0
AGRS
149
AHAP
69
AIMS
370
AIMS-W
0
AISA
172
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1090
AKRA
710
AKSI
690
ALDO
1390
ALKA
292
ALMI
288
ALTO
260
Market Watch
Last updated : 2022/01/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.19
-0.02%
-0.10
IHSG
6611.16
0.16%
+10.34
LQ45
947.02
0.02%
+0.16
HSI
23775.35
-2.12%
-514.55
N225
26170.30
-3.11%
-841.03
NYSE
16236.51
-0.64%
-103.81
Kurs
HKD/IDR 1,844
USD/IDR 14,383
Emas
837,385 / gram

Indonesia Bakal Dilanda Gelombang Ketiga Covid? Cek Penjelasan Epidemiolog

ECONOMICS
Binti Mufarida
Rabu, 29 September 2021 09:27 WIB
Soal potensi gelombang tiga Covid melanda Indonesia, berikut keterangan dari epidemiolog.
Indonesia Bakal Dilanda Gelombang Ketiga Covid? Cek Penjelasan Epidemiolog (Dok.MNC Media)
Indonesia Bakal Dilanda Gelombang Ketiga Covid? Cek Penjelasan Epidemiolog (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Apakah Indonesia akan terjadi gelombang ketiga? Apalagi dalam waktu tiga bulan mendatang merupakan libur akhir tahun dimana mobilitas masyarakat biasanya akan tinggi.  

“Sebagai epidemiolog kami jarang memprediksi jauh-jauh. Biasanya kita memprediksi satu atau dua kali masa inkubasi, 2 minggu atau 1 bulan,” kata Perhimpunan Ahli Epidemiologi  Indonesia (PAEI), Masdalina Pane secara virtual, dikutip Rabu (29/9/2021).

Mobilitas masyarakat yang tinggi tanpa protokol kesehatan (prokes) pasti akan menyebabkan kenaikan kasus Covid-19. Hal ini berkaca pada terjadinya puncak gelombang pertama dan kedua Covid-19 di Indonesia yang terjadi akibat mobilitas tinggi tanpa prokes.

Masdalina mengatakan dari catatan para epidemiolog dalam penurunan kasus pada saat ini, yang pertama hampir di semua negara penurunan kasus itu berlangsung antara 8 sampai 14 minggu. “Jadi dia turun sendiri memang,” katanya.

“Beberapa komunikasi dengan para ahli virus memang virus tersebut kemungkinan beradaptasi dengan kondisi di negara tersebut,” paparnya.  

Kemudian kedua, kata Masdalina, kemungkinan virusnya mulai melemah. “Dan kemungkinan yang ketiga beberapa intervensi yang dilakukan seperti PPKM itu memiliki kontribusi, walaupun kita sulit mengukur kontribusi dari beberapa indikator.”

Namu, Masdalina mengatakan pada kondisi penurunan seperti sekarang ini, masih ada beberapa catatan dari epidemiologi terkait dengan pencapaian Indonesia menurunkan kasus.

Pertama, masih ada selisih atau gap antara kasus yang dilaporkan oleh pemerintah dengan kasus yang ada di lapangan. “Berapa besar selisihnya? Antara 20 sampai 34%. Ini harus menjadi catatan. Mestinya tidak boleh terjadi ada gap antara kasus yang ada di lapangan dengan kasus yang dilaporkan secara resmi setiap hari,” kata Masdalina.  

Kedua yakni testing. Masdalina mengatakan walaupun testing sudah meningkat dengan cukup signifikan, tetapi dibandingkan dengan suspek testing masih sepertiga sampai setengahnya. “Artinya masih cukup banyak suspek yang belum di tes,” paparnya.  

Ketiga, kata Masdalina yakni tracing dimana menurut WHO yang menjadi standar di dalam tracing itu adalah persentase kasus konfirmasi yang mampu dilakukan tracing sampai dengan di containment dengan isolasi dan karantina.

“Artinya kalau saat ini kita sudah berada pada level 2, kita harus turunkan kembali transmisi kita ke level 1. Dan kedepannya tidak boleh bolak-balik hanya level 1, 2, 1, 2 atau 2, 3, 2, 3. Tetapi ke depan kita harus turun menuju ke level klaster. Kemudian menurun lagi pada tingkat sporadis dan terus turun sampai dengan nol kasus. Saya kira itu yang harus ditarget bagi pemerintah,” ungkap Masdalina.  

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD