Secara kumulatif, impor Indonesia Januari–Maret 2026 mencapai USD61,30 miliar, naik 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC). Pertumbuhan ini terutama ditopang impor nonmigas yang naik 12,16 persen, sementara impor migas terkontraksi sebesar 1,72 persen.
Sementara itu, berdasarkan golongan penggunaan barang (BEC), seluruh komponen impor mencatatkan pertumbuhan. Kenaikan tertinggi dicatatkan barang modal sebesar 24,02 persen, diikuti bahan baku dan penolong 6,89 persen serta barang konsumsi 6,12 persen (CtC). Peningkatan impor barang modal ini didorong antara lain, oleh permintaan terhadap komoditas strategis seperti telepon pintar, komputer, serta pesawat terbang.
Dari sisi komoditas, lonjakan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) sebesar 546,55 persen (CtC). Selain itu, impor garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) tumbuh 71,95 persen; diikuti bijih logam, terak dan abu (HS 26) sebesar 60,64 persen; serta logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) naik 44,71 persen. Kenaikan juga terjadi pada berbagai produk kimia (HS 38) yang tumbuh 36,31 persen.
Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi dari China, Australia, dan Jepang dengan kontribusi gabungan mencapai 52,97 persen. Namun demikian, pertumbuhan impor tertinggi tercatat dari beberapa negara nontradisional, antara lain, Meksiko yang meningkat 383,37 persen, Spanyol 177,70 persen, serta Oman 138,90 persen (CtC) yang menunjukkan semakin beragamnya sumber pasokan impor Indonesia.
Budi menegaskan, pemerintah menjaga momentum kinerja perdagangan dengan terus memperkuat ketahanan sektor domestik.
“Kami akan terus memperluas pasar dengan tetap menjaga stabilitas industri dalam negeri serta memastikan kebijakan yang adaptif terhadap dinamika global,” kata dia.
(NIA DEVIYANA)