AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Inflasi AS-China Picu Kekhawatiran Pasar, Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

ECONOMICS
Dinar Fitra Maghiszha
Sabtu, 20 November 2021 11:24 WIB
Risiko tingkat inflasi di Amerika Serikat (AS) dan China memicu kekhawatiran pasar global, termasuk Indonesia.
Risiko tingkat inflasi di Amerika Serikat (AS) dan China memicu kekhawatiran pasar global, termasuk Indonesia. (Foto: MNC Media)
Risiko tingkat inflasi di Amerika Serikat (AS) dan China memicu kekhawatiran pasar global, termasuk Indonesia. (Foto: MNC Media)

IDXChannel -  Risiko tingkat inflasi di Amerika Serikat (AS) dan China memicu kekhawatiran pasar global, termasuk Indonesia.

Secara tahunan pada Oktober 2021, inflasi AS mencapai level tertingginya dalam 30 tahun terakhir sejalan dengan kenaikan biaya energi, ketatnya pasokan, dan permintaan konsumen.

Sedangkan di China, Indeks Harga Konsumen/IHK mengalami kenaikan 1,5% secara tahunan yoy pada Oktober, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 0,7% yoy. Inflasi sektor produsen indeks harga produsen juga meningkat 13,5% pada bulan lalu.

Bagaimana dengan Indonesia?

Ekonom Senior Bank DBS Indonesia Radhika Rao menilai regulasi pemerintah Indonesia dalam beberapa hal mampu mengatasi gejolak perekonomian global.

Menurut Radhika, pengaturan kenaikan harga BBM, tarif listrik pelanggan yang tetap dan perjanjian pengadaan dapat membatasi dampak pergerakan harga komoditas terhadap harga domestik.

"Sehingga secara keseluruhan tingkat inflasi domestik hanya berada pada rata-rata 1,5% YoY tahun ini," kata Radhika dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (19/11/2021).

Merespons kenaikan inflasi di AS, Radhika mencermati Bank Indonesia perlu untuk meninjau kembali kebijakannya, apabila Bank Sentral AS / Federal Reserve memajukan kenaikan suku bunganya pada 2022.

"Kenaikan suku bunga Bank Sentral AS yang dimajukan ke 2022 mungkin mengharuskan BI untuk meninjau kembali jalur kebijakannya, terutama jika inflasi domestik juga bergerak lebih tinggi setelah periode ramah yang diperpanjang," katanya.

Aktivitas kegiatan manufaktur, dinilai dapat menjadi kekuatan Indonesia mengantisipasi dampak kenaikan harga. Namun, Radhika mewaspadai adanya hambatan di layanan non-esensial dan kendala kapasitas fasilitas produksi.

"Aktivitas manufaktur sebagian terhambat oleh pembatasan layanan non-esensial dan kendala kapasitas di fasilitas produksi. Kinerja layanan, terutama di sektor properti serta kesehatan menunjukkan kinerja baik tetapi untuk sektor yang membutuhkan kontak intensif / tatap muka masih merasakan tekanan dari kondisi pandemi dan pembatasan mobilitas," tuturnya.

Respons Pemerintah

Dalam jumpa pers Rabu (17/11/2021), Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bakal terus melakukan upaya untuk mengendalikan harga.

Berkomentar ihwal inflasi di AS-China, Sri Mulyani meyakini tingkat inflasi di Indonesia masih berada di level yang terjaga kendati ada kenaikan di tingkat harga produsen.

"Di Indonesia harga produsen mengalami kenaikan 7,3%. Kalau di Eropa naik 16,3%, China 13,5%, dan di AS 8,6%, Korea 7,5%. Kenaikan harga produsen ini harus kita waspadai agar tidak mendorong inflasi pada tingkat konsumen," ucapnya.

Sri Mulyani mengaku optimis pemulihan ekonomi di kuartal IV 2021 akan meningkat sejalan dengan perbaikan sejumlah indikator perekonomian Indonesia.

"Sampai dengan hari ini, pemulihan ekonomi di kuartal IV diperkirakan akan meningkat cukup kuat terutama ditunjang dengan beberapa indikator seperti Indeks Kepercayaan Konsumen yang meningkat, Retail Sales Index meningkat, PMI manufaktur meningkat sesudah mengalami penurunan akibat varian Delta, juga pertumbuhan ekspor impor yang sangat tinggi, lebih dari 50%," tandasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD