IDXChannel - Singapura mencatat tingkat kenaikan harga barang dan jasa atau inflasi hingga April 2026 masih stabil di level 1,8 persen, bahkan lebih rendah daripada ekspektasi pasar sebesar 2 persen. Namun, tingginya harga energi masih mengintai daya beli konsumen Singapura.
Sejalan dengan melambatnya inflasi secara umum, inflasi inti (core inflation) yang tak memperhitungkan inflasi makanan dan energi, juga turun menjadi 1,4 persen, lebih rendah dari ekspektasi 1,7 persen. Penurunan ini didorong oleh melambatnya inflasi di sektor jasa dan ritel, serta barang lainnya.
Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) melaporkan penurunan angka inflasi disebabkan karena lonjakan harga transportasi dan akomodasi diimbangi dengan inflasi inti yang lebih rendah.
Kendati demikian, otoritas setempat memperkirakan, Singapura berisiko terkena imported inflation dalam beberapa bulan ke depan akibat tingginya harga minyak mentah dunia. Belum redanya eskalasi konflik Timur Tengah menghambat rantai pasok global, yang berpotensi mendongkrak biaya produksi dan transportasi.
“Saat ini, risiko terhadap prospek inflasi cenderung ke atas. Gangguan terus-menerus terhadap pasokan energi global atau kekurangan bahan baku utama pada rantai pasokan regional dapat semakin meningkatkan biaya impor bagi Singapura,” kata MAS dan MTI, dikutip dari CNA (25/5/2026).
Kondisi ini, menurut pemerintah Singapura, dapat membuat belanja konsumen di dalam negeri menjadi lebih hati-hati.
Meski begitu, inflasi inti dan inflasi secara umum sepanjang tahun diperkirakan berada di kisaran 1,5-2,5 persen. Proyeksi itu didasarkan pada risiko pembatasan produksi akibat gangguan rantai pasok atau pengetatan kondisi keuangan global yang dapat menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi Singapura.
(Rahmat Fiansyah/Eugenia Siregar)