IDXChannel – Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi menyoroti tekanan subsidi dan kompensasi energi nasional terus meningkat dalam satu dekade terakhir.
Berdasarkan data DEN, total subsidi dan kompensasi energi meningkat dari sekitar Rp119,1 triliun pada 2015 menjadi Rp313,9 triliun pada 2025. Bahkan pada 2022, nilainya sempat melonjak hingga sekitar Rp551 triliun akibat lonjakan harga energi global pasca konflik Rusia-Ukraina.
Sedangkan untuk tahun ini, berdasarkan APBN 2026, alokasi subsidi mencapai Rp210 triliun. Sedangkan kompensasi energi Rp381 triliun.
Kholid mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mulai mendorong diversifikasi energi rumah tangga dan pemanfaatan gas domestik seperti gas bumi. Menurutnya, sejak 2012 pemanfaatan gas bumi domestik telah melampaui volume ekspor gas nasional.
Kemudian pada 2025, pemanfaatan domestik gas mencapai sekitar 3.882 BBTUD, sementara ekspor turun menjadi sekitar 1.718 BBTUD.
“Indonesia sebenarnya memiliki potensi gas domestik yang cukup besar. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi energi yang dapat diakses masyarakat secara aman, efisien, dan ekonomis,” ujar Kholid dalam Focus Group Discussion (FGD) di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Terkait rencana kebijakan penggunaaan compressed natural gas (CNG) atau gas bumi yang dikompresi sebagai pengganti liquified petroelum gas (LPG), Kholid menjelaskan, kebijakan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Beberapa sektor yang bisa disasar antara lain transportasi, rumah tangga dan industri.
Dalam FGD tersebut, DEN juga memaparkan sejumlah keunggulan CNG dibanding LPG. Dari sisi harga energi, gas alam memiliki biaya sekitar Rp38,5 per MJ (mega joule), jauh lebih rendah dibanding LPG nonsubsidi yang dapat mencapai Rp285 per MJ.
Menurut Kholid, pada sektor transportasi, penggunaan CNG dinilai mampu menekan biaya operasional sekaligus menghasilkan emisi lebih rendah dibanding BBM konvensional. Sementara pada sektor industri, penggunaan gas bumi dinilai lebih efisien dan stabil dibanding batu bara maupun BBM.
Namun, Kholid menegaskan, implementasi CNG rumah tangga masih menghadapi tantangan teknis dan keselamatan yang cukup besar. Salah satu isu utama adalah belum adanya standar internasional khusus untuk tabung CNG rumah tangga, termasuk katup, selang, dan instalasinya.
Dia menyampaikan, tekanan tabung CNG dapat mencapai 150–200 bar, jauh lebih tinggi dibanding tabung LPG rumah tangga yang hanya sekitar 8 bar. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan material tabung menjadi jauh lebih kompleks dan mahal.
“Isu keselamatan menjadi aspek yang sangat krusial karena karakteristik CNG berbeda dengan LPG. Pemerintah perlu memastikan standardisasi dan sistem monitoring sebelum implementasi dilakukan secara luas,” kata dia.
(Dhera Arizona)