sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Jurus Kementan Atasi Kekurangan Pasokan Susu untuk MBG

Economics editor Tangguh Yudha
03/06/2026 00:05 WIB
Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan program Dapur Susu Indonesia (DASI) untuk mengatasi kekurangan pasokan susu untuk MBG.
Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan program Dapur Susu Indonesia (DASI) untuk mengatasi kekurangan pasokan susu untuk MBG. (Foto: iNews Media Group)
Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan program Dapur Susu Indonesia (DASI) untuk mengatasi kekurangan pasokan susu untuk MBG. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan program Dapur Susu Indonesia (DASI). Proyek baru tersebut merupakan strategi untuk memenuhi kebutuhan pasokan susu untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus memperkuat ekosistem industri susu nasional sekaligus

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun mengatakan, DASI merupakan model pengolahan susu skala kecil yang akan bertindak sebagai pembeli (offtaker) dengan menjaring peternak sapi perah di berbagai daerah. Dengan modal kurang dari Rp5 miliar, DASI dibangun untuk melayani hingga 10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sekitarnya.

"Dapur Susu Indonesia, ini yang kita ingin dorong. Kami sudah buat prototipenya. Dengan modal mungkin di bawah Rp5 milar itu sudah bisa membuat satu unit dapur susu begitu yang kemudian bisa menyuplai sekitar 5 sampai 10 SPPG di sekitarnya," ungkapnya dalam konferensi pers Peringatan Hari Susu Nusantara di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Makmun menjelaskan, DASI diharapkan mampu mendorong penyebaran peternakan sapi perah ke berbagai daerah. Dengan populasi sekitar 100-200 ekor sapi perah di setiap wilayah, peternak dapat membangun fasilitas pengolahan susu yang langsung terhubung dengan kebutuhan SPPG.

"Nah, dengan adanya offtaker dengan bangunan model pengolahan yang kecil-kecil, maka kemudian sapi-sapi perahnya akan menyebar. Misalnya basisnya 100, 200 ekor di setiap wilayah, maka kemudian dia bangun DASI tadi. Nah, itulah langsung disuplai ke SPPG," lanjutnya.

Selain menyiapkan DASI, kata Makmun, Kementan juga mendorong peternak sapi perah di seluruh Indonesia untuk meningkatkan produksi susu. Pemerintah bahkan menjamin hasil produksi peternak akan terserap melalui skema pengadaan yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN).

Dia mengatakan, selama ini salah satu hambatan pengembangan industri susu nasional adalah ketidakpastian pasar. Di satu sisi industri mengeluhkan minimnya pasokan susu segar dari peternak, namun di sisi lain peternak khawatir hasil produksinya tidak terserap apabila produksi ditingkatkan.

"Kita berharap semua para peternak ini berlomba nih untuk beternak sapi perah. Apa jaminannya? Jaminannya di-offtake oleh BGN," ungkapnya.

Menurut Makmun, kehadiran program MBG menjadi solusi atas persoalan tersebut. Program yang menjangkau jutaan penerima manfaat itu membutuhkan pasokan susu dalam jumlah besar dan berkelanjutan, sehingga dapat menjadi pasar yang menjanjikan bagi peternak sapi perah.

"Karena kan menjadi menu yang wajib ya, kalau kami lihat di pedoman itu minimal dua kali dalam sepekan itu meminum susu. Nah, susu apa yang diakomodasi? Itu kan tidak hanya UHT, artinya kan bisa pasteurisasi, bisa susu sterilisasi. Kalau pasteurisasi dan sterilisasi, saya kira dengan modalnya koperasi, ini bisa dibuat," lanjutnya.

Dia menambahkan, pengembangan peternakan sapi perah juga tidak boleh hanya terpusat di Pulau Jawa. Pemerintah ingin mendorong penyebaran sentra produksi susu ke berbagai wilayah lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara hingga kawasan Indonesia Timur.

"Di luar Jawa, di Sumatra, di Kalimantan, kemudian di Sulawesi, kemudian Bali, Nusa Tenggara, sampai kemudian di ke Indonesia Timur. Dengan pola peternakan yang tidak selalu mengandalkan dataran tinggi, maka kita berharap semua para peternak ini berlomba nih untuk beternak sapi perah," ujar Makmun.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement