Saat ini, PLTP Sarulla hanya mampu menghasilkan listrik sekitar 220 MW akibat penurunan tekanan uap yang terjadi dalam operasional lapangan panas bumi. Kondisi tersebut membuat produksi belum mencapai kapasitas maksimal meski pembangkit memiliki kapasitas terpasang sebesar 330 MW.
Pemerintah bersama pengelola telah menyiapkan langkah pemulihan melalui penyelesaian administrasi dan investasi baru. Setelah kapasitas eksisting kembali optimal, pengembangan lanjutan akan dilakukan secara bertahap untuk memanfaatkan potensi panas bumi Sarulla yang diperkirakan mencapai sekitar 1.100 MW.
PLTP Sarulla merupakan salah satu proyek panas bumi terbesar di Indonesia yang dioperasikan oleh Sarulla Operations Ltd. (SOL). Pembangkit ini memiliki tiga unit pembangkit masing-masing berkapasitas 110 MW, yakni Unit Silangkitang (SIL) yang beroperasi komersial sejak Maret 2017, Unit Namora-I-Langit 1 (NIL-1) sejak Oktober 2017, dan Unit Namora-I-Langit 2 (NIL-2) sejak Mei 2018.
Pemerintah berharap pemulihan kapasitas PLTP Sarulla tidak hanya meningkatkan pasokan listrik berbasis energi baru terbarukan, tetapi juga menjadi pijakan bagi pengembangan lapangan panas bumi yang lebih luas guna mendukung target transisi energi dan ketahanan energi nasional. (Wahyu Dwi Anggoro)