“Berdasarkan kajian awal ReforMiner, substitusi LPG impor berpotensi menghemat devisa sekitar USD820 juta hingga USD6 miliar tergantung skenario implementasi,” ujar Komaidi saat Focus Group Discussion (FGD) di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Pada kesempatan tersebut, Komaidi memperingatkan implementasi kebijakan tersebut membutuhkan kesiapan pasokan gas, infrastruktur distribusi, serta dukungan fiskal yang tidak kecil. Untuk menggantikan seluruh impor LPG Indonesia, dibutuhkan sekitar 352,5 billion standard cubic feet (BSCF) gas per tahun atau setara sekitar 965 million standard cubic feet per day (MMSCFD), yakni sekitar 10–15 persen produksi gas nasional saat ini.
“Kebijakan konversi LPG ke CNG tidak dapat dilakukan secara instan. Pemerintah perlu memastikan keekonomian proyek, kesiapan infrastruktur, dan penerimaan masyarakat agar implementasinya realistis,” ujar Komaidi.
Dalam FGD tersebut, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi menambahkan, konsumsi LPG nasional terus meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.