Sektor industri manufaktur berkontribusi paling besar untuk ekonomi Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 33,18 persen. Dari sisi pengeluaran, kontribusi dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau bisa disebut sebagai investasi fisik di Jawa Tengah yaitu sebesar 31,52 persen atau lebih tinggi dari nasional yang sebesar 29,36 persen.
Dalam hal ini, peran dari industri manufaktur dan komponen PMTB sangat penting untuk Jawa Tengah.
“Karena itu, forum ini sangat tepat untuk mendorong kembali masalah investasi dan industri manufaktur. Nah, yang lainnya sebenarnya kalau kita lihat beberapa komposisi dari pengembangan di Jawa Tengah ini, potensi investasi masih akan sangat besar,” ujar Susiwijono.
Ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,80 persen pada semester pertama 2026 (c-to-c), dan industri manufaktur atau pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap kondisi tersebut. Sementara itu, realisasi investasi Jawa Tengah pada semester pertama 2026 mencapai Rp48,54 triliun atau 48,99 persen dari target 2026 sebesar Rp99,09 triliun, dengan komposisi PMA Rp25,92 triliun (53,40 persen) dan PMDN Rp22,62 triliun (46,60 persen).
Lima besar lokasi realisasi investasi adalah Kota Semarang (Rp6,57 triliun), Kabupaten Kendal (Rp6,56 triliun), Kabupaten Batang (Rp6,11 triliun), Kabupaten Temanggung (Rp4,58 triliun), dan Kabupaten Demak (Rp3,34 triliun).
(NIA DEVIYANA)