AALI
8750
ABBA
226
ABDA
6025
ABMM
4470
ACES
650
ACST
193
ACST-R
0
ADES
7150
ADHI
760
ADMF
8500
ADMG
167
ADRO
3910
AGAR
296
AGII
2400
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
104
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
143
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1700
AKRA
1375
AKSI
328
ALDO
680
ALKA
286
ALMI
396
ALTO
178
Market Watch
Last updated : 2022/09/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
537.62
-0.34%
-1.81
IHSG
7112.45
-0.21%
-15.05
LQ45
1015.98
-0.41%
-4.21
HSI
17860.31
0.03%
+5.17
N225
26571.87
0.53%
+140.32
NYSE
0.00
-100%
-13797.00
Kurs
HKD/IDR 1,925
USD/IDR 15,125
Emas
794,741 / gram

Kemendikbudristek Klarifikasi Isu Klaster Covid-19 di Sekolah

ECONOMICS
Neneng Zubaedah
Jum'at, 24 September 2021 17:12 WIB
Terkait klaster Covid PTM, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek Jumeri beri klarifikasi.
Kemendikbudristek Klarifikasi Isu Klaster Covid-19 di Sekolah(Dok.MNC Media)
Kemendikbudristek Klarifikasi Isu Klaster Covid-19 di Sekolah(Dok.MNC Media)

IDXChannel -Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek Jumeri menyampaikan klarifikasi mengenai isu kluster Covid-19 di sekolah.

"Terkait dengan pemberitaan yang viral saat ini di media bahwa terdapat 1.296 kluster Covid di sekolah ini perlu kami luruskan, perlu diklarifikasi, dijelaskan kembali miss persepsi yang terjadi," katanya pada konferensi pers daring, Jumat (24/9/2021).

Jumeri menjelaskan, terkait dengan isu kluster Covid-19 di sekolah setidaknya ada 4 kesalahpahaman mengenai isu kluster PTM Terbatas yang beredar di masyarakat.

Pertama, angka 2,8 % yang dipublikasikan sebelumnya bukanlah data kluster Covid-19 di satuan pendidikan. Melainkan itu adalah data sekolah-sekolah yang melaporkan warganya ada yang tertular Covid-19 melalui aplikasi Kemendikbudristek.

"Ini hal pertama yang perlu dipahami bersama. Jadi sekali lagi 2,8 % itu adalah sekolah-sekolah yang melaporkan warganya ada yang tertular covid," terangnya.

Dia menjelaskan, hal ini perlu dipahami bersama bahwa laporan data sekolah yang warganya terkena Covid-19 itu juga diminta sejak Juli 2020 hingga September 2021.

Selain itu, Jumeri menerangkan, belum tentu juga penularan Covid-19 yang terjadi di satuan pendidikan itu terjadi pada sekolah yang sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

Sebab, katanya, dari 46.500 sekolah yang sudah melakukan pelaporan yang diminta Kemendikbudristek itu ada sekolah yang sudah melakukan PTM tTerbatas dan ada yang belum menggelar PTM Terbatas. "Ini hal kedua yang perlu kami tegaskan," ujarnya.

Kemudian, dia menerangkan, angka 2,8 % sekolah yang warganya terkena Covid-19 itu juga bukanlah akumulasi dari satu bulan terakhir atau akumulasi dari masa pemberlakukan PTM terbatas setelah masa PPKM darurat.

Data tersebut adalah akumulasi sejak Juli 2020 atau Tahun Ajaran 2020/2021 sampai dengan Tahun Ajaran 2021/2022 atau September ini. "Itu kira-kira masa 14 bulan perjalanan pembelajaran di Indonesia baik yang PTM dan belum PTM. Ini hal ketiga yang perlu kami tegaskan," katanya.

Kemudian terkait data ada 15.429 siswa dan 7.307 guru yang positif Covid-19 yang berasal dari laporan 46.500 sekolah itu adalah data yang belum terverifikasi sehingga masih ditemukan banyak kesalahan.

Misalnya ada sekolah yang memasukkan data jumlah guru yang terkena Covid-19 itu melebihi jumlah guru yang ada di sekolah itu. "Sehingga itu perlu kami luruskan bahwa angka-angka guru pun perlu kami berikan klarifikasi," ujarnya.

Jumeri mengakui, untuk melakukan pendataan langsung ke lapangan ke semua sekolah itu sangat berat. Oleh karena itu, solusi kedepan adalah saat ini Kemendikbudristek dan Kementerian Kesehatan sedang melakukan ujicoba sistem pendataan baru dengan memakai aplikasi PeduliLindungi. 

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD