Namun, tantangan utama dalam implementasi WtE tidak hanya terletak pada teknologi pembangkit, melainkan juga pada kesiapan sistem operasional di lapangan, khususnya dalam hal penanganan dan pergerakan limbah.
Pelaku industri menilai, tanpa sistem penanganan limbah yang andal dan terintegrasi, fasilitas WtE berisiko menghadapi ketidakstabilan pasokan bahan baku, tingginya downtime, serta peningkatan biaya operasional yang dapat mempengaruhi kelayakan ekonomi proyek dalam jangka panjang.
Dalam konteks ini, perusahaan penyedia alat berat mulai mengambil peran lebih luas dalam mendukung rantai operasional proyek WtE. PT Multicrane Perkasa (MCP), misalnya, terlibat dalam sejumlah proyek pengolahan limbah menjadi energi dengan pendekatan sistem penanganan limbah yang terintegrasi, mulai dari tahap pra-pengolahan hingga feeding ke fasilitas WtE atau RDF.
MCP memanfaatkan sistem berbasis crane elektrik sebagai alternatif metode konvensional. Pendekatan ini dinilai mampu menjaga konsistensi aliran limbah ke fasilitas pengolahan sekaligus menekan risiko gangguan teknis yang berpotensi menyebabkan downtime.