AALI
8225
ABBA
550
ABDA
0
ABMM
1295
ACES
1300
ACST
244
ACST-R
0
ADES
2820
ADHI
895
ADMF
7675
ADMG
216
ADRO
1345
AGAR
368
AGII
1305
AGRO
2290
AGRO-R
0
AGRS
244
AHAP
70
AIMS
338
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
600
AKRA
3870
AKSI
424
ALDO
720
ALKA
234
ALMI
238
ALTO
322
Market Watch
Last updated : 2021/09/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
453.05
-0.47%
-2.15
IHSG
6060.76
-0.26%
-15.56
LQ45
851.73
-0.36%
-3.10
HSI
24221.54
0.51%
+122.40
N225
29839.71
-2.17%
-660.34
NYSE
16168.17
-1.78%
-292.18
Kurs
HKD/IDR 1,827
USD/IDR 14,235
Emas
805,555 / gram

Kilang Minyak Terbakar Lagi, Pertamina Disarankan Lakukan Audit Keamanan

ECONOMICS
Suparjo Ramalan
Minggu, 13 Juni 2021 14:18 WIB
PT Pertamina (Persero) disarankan melakukan audit teknologi atau perangkat pencegahan dan proteksi risiko.
Kilang Minyak Terbakar Lagi, Pertamina Disarankan Lakukan Audit Keamanan. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - PT Pertamina (Persero) disarankan melakukan audit teknologi atau perangkat pencegahan dan proteksi risiko. Saran itu menyusul insiden kebakaran yang terjadi di sejumlah kilang minyak atau Refinery Unit (RU) milik perseroan di beberapa daerah. 

Dengan audit, manajemen bisa memastikan apakah perangkat pencegah dan perlindungan kebakaran berfungsi baik dan optimal. Demikian juga audit atas protokol keamanan dan proteksi kebakaran yang dimiliki.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, kilang minyak sejatinya rentan dengan kebakaran karena sifat minyak yang mudah terbakar (combustible). Karena itu, desain dan operasi kilang harus menggunakan teknologi atau alat proteksi kebakaran. 

"Penyebab kebakaran di kilang itu banyak dan demikian juga dengan faktor penyebabnya. Oleh karena dalam desain dan operasi kilang risiko-risiko kebakaran dicegah dan diminimalkan dengan pemasangan teknologi alat proteksi kebakaran dan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang ketat," ujar Fabby saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Minggu (13/6/2021). 

Menurutnya, dengan adanya kebakaran kilang Pertamina yang terjadi belakangan ini, maka perlu dilakukan audit teknologi atau perangkat pencegahan yang dimiliki Pertamina di seluruh kilang. Jika frekuensi kebakaran pun terjadi terulang kembali dan terjadi di waktu-waktu mendatang, dikhawatirkan insiden tersebut akan mengganggu proses produksi atau operasional kilang. 

"Kalau frekuensi terbakar naik dan ada penghentian produksi, tentunya akan berdampak pada produksi kilang. Intinya perlu ada peningkatan kesiapsiagaan dan meminimalkan risiko kebakaran kilang," tutur dia.

Secara  agregat, ada enam Refinery Unit milik Pertamina yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Total produksi di enam kilang tersebut mencapai 1.031 barel per hari (MBSD).

Meski begitu, sumber bisnis perseroan tersebut pernah mengalami insiden kebakaran selama beberapa tahun belakangan ini. Terakhir, adalah Refinery Unit IV di Cilacap, Jawa Tengah. Kebakaran terjadi pada Jumat malam (11/6/2021). (TYO)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD