AALI
12175
ABBA
187
ABDA
6250
ABMM
3030
ACES
980
ACST
158
ACST-R
0
ADES
5825
ADHI
695
ADMF
8050
ADMG
181
ADRO
3100
AGAR
330
AGII
1980
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
125
AHAP
62
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
155
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
1010
AKSI
350
ALDO
895
ALKA
292
ALMI
290
ALTO
196
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
540.55
-0.5%
-2.73
IHSG
6879.62
-0.5%
-34.53
LQ45
1011.61
-0.42%
-4.32
HSI
20079.32
-0.16%
-32.78
N225
26713.08
-0.13%
-35.06
NYSE
15290.38
1.69%
+254.51
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
876,842 / gram

Komnas KIPI Ungkap Efek Samping Vaksin Covid-19 pada Anak Lebih Rendah dari Dewasa

ECONOMICS
Rizky Pradita Ananda
Selasa, 25 Januari 2022 20:08 WIB
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi pada anak-anak usia 6 hingga 11 tahun lebih sedikit dibanding pada orang dewasa.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi pada anak-anak usia 6 hingga 11 tahun  lebih sedikit dibanding pada orang dewasa. (Foto: MNc Media)
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi pada anak-anak usia 6 hingga 11 tahun lebih sedikit dibanding pada orang dewasa. (Foto: MNc Media)

IDXChannel - Menariknya, diungkap Ketua Komnas KIPI, Prof Hindra Irawan Satari  selama sudah satu bulan lebih berjalan, ditemukan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) atau efek samping pasca vaksin pada anak-anak usia 6 hingga 11 tahun justru lebih sedikit dibanding KIPI pada orang dewasa.

“Dari segi umur, KIPI pada usia muda lebih rendah dari yang usia produktif dan lansia. Jadi tidak benar jika KIPI pada anak lebih tinggi,” kata Prof. Hindra, dikutip dari siaran media resmi Kementerian Kesehatan, Selasa (25/1/2022).

Berdasarkan catatan data Komnas KIPI, persentase KIPI serius berdasarkan kelompok usia, terbanyak ada di grup usia 31-45 tahun, dengan  jumlah laporan KIPI sebanyak 122 kasus. Pada usia 18-30 tahun 97 kasus, usia di atas 59 tahun sebanyak 77 kasus, usia 46-59 tahun 68 kasus, usia anak remaja 12-17 tahun ada 19 kasus, dan terakhhir untuk anak-anak umur 6-11 tahun dilaporkan ada 1 kasus KIPI serius.

Berkaca pada data laporan di atas yang memperlihatkan  tingkat KIPI serius yang jauh lebih rendah pada anak-anak. Disebutkan jadi salah satu bukti kalau pemberian vaksinasi Covid-19 pada anak usia 6-11 tahun memang aman. Hasil uji klinis juga menunjukkan tidak ada efek yang serius dari penyuntikan vaksinasi Covid-19. Jika ada KIPI pun, sifatnya ringan dan mudah diatasi.

“Dari uji klinis fase 1 dan 2 vaksin Sinovac yang telah kami lakukan pada anak dan remaja usia 3-17 tahun menunjukkan bahwa reaksi yang dialami cenderung ringan, mayoritas mengalami nyeri lokal, diikuti demam dan batuk. Tidak ada laporan yang KIPI serius pada kelompok yang diberi vaksin,” lanjut Prof. Hindra.

Efek samping setelah selesai menerima vaksin Covid-19, merupakan sesuatu yang wajar. Pada reaksi ringan, Prof Hindra menyarankan solusinya adalah segera istirahat pasca vaksinasi.

 Jika mengalami demam, dianjurkan segera minum obat sesuai dosis dan minum air mineral yang cukup. Sementara, efek nyeri di tempat suntikan bisa diatasi dengan cara tetap menggerakkan tangan dan mengompres titik nyeri dengan air dingin.

Patut menjadi perhatian para orang tua, jika anak masih demam setelah 48 jam divaksin. Maka anak harus segera isolasi mandiri dan melakukan swab tes Covid-19. Jika keluhan tidak berkurang, segera hubungi nomor kontak petugas kesehatan yang tertera di kartu vaksinasi atau fasyankes terdekat.

Sebagai informasi, sampai dengan Minggu 23 Januari 2022, dari total target sasaran kurang lebih 26,4 juta anak. Sudah sebanyak 13,7 juta anak atau 51,9 persen yang telah menerima vaksinasi dosis pertama, dan 1,6 juta anak atau 6,3 persen yang sudah divaksin Covid-19 dosis kedua (full dose). (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD