IDXChannel - Konflik militer antara Taiwan dan China membuat lebih dari seperempat perusahaan Taiwan yang berada di Negeri Tirai Bambu memutuskan pindah. Adapun sepertiga perusahaan merencanakan pindah ke tempat lain, berdasarkan jejak pendapat think-thank Amerika Serikat.
Sementara itu, menurut survei yang dilakukan Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) menunjukkan hanya 31% perusahaan Taiwan yang tidak memiliki rencana memindahkan manufakturnya. Survei tersebut dilakukan seminggu sebelum kedatangan Nancy Pelosi.
Sebagian besar perusahaan Taiwan menyatakan Asia Tenggara sebagai tujuan yang paling diminati, dengan persentase mencapai 63%. Diikuti responden yang memilih kembali ke Taiwan sebesar 51%, sebanyak 19% memilih Asia Timur Laut, 10% memilih Asia Selatan atau Tengah, dan 10% memilih Amerika Utara.
Menurut pembuat survei, Scott Kenndy, yang merupakan penasihat senior CSIS, menyebut mengadakan survei tersebut untuk menyatukan pandangan para pebisnis Taiwan dalam menghadapi konflik China dan Taiwan.
Dia menyatakan hasil survei tersebut menunjukkan adanya krisis kepercayaan di lingkungan bisnis China, tepatnya antara pengusaha Taiwan dan pengusaha multinasional.
Survei tersebut diikuti 525 perusahaan Taiwan dan dilakukan sejak 25 Juli sampai 1 Agustus, berakhir sehari sebelum Pelosi tiba dan sebelum China melakukan latihan militer di sekitar wilayah Taiwan yang membuat ketegangan antar kedua negara meningkat.
Survei juga menunjukkan persentase perusahaan yang memutuskan pindah berdasarkan jenis usaha, 53% responden berada pada sektor jasa, 43% di sektor industri, dan sisanya di sektor pertanian.
Data menunjukkan sebesar 67% perusahaan telah pindah ke Asia Tenggara, 29% pindah ke Jepang dan Korea Selatan, serta 14% pindah ke wilayah Asia Tengah.
Terdapat survei yang mengejutkan bahwa hampir 21% perusahaan Taiwan telah dan akan memindahkan manufakturnya ke China. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa perusahaan Taiwan tidak dapat memisahkan diri dari China.
"Gerakan terbalik ini tidak sepenuhnya menggantikan pergerakan dari (daratan) China, tetapi ini memperkuat kesimpulan bahwa Taiwan tidak memisahkan diri dari ekonomi China," kata CSIS saat merilis temuannya, dilansir South China Morning Post, Senin (10/10/2022).
CSIS mengatakan terdapat dua faktor yang menyebabkan mereka pindah ke China. Pertama, mengenai rantai pasokan. Kedua, mengenai potensi di China lebih menguntungkan dari potensi pasar di Taiwan.
Hampir seperempat perusahaan Taiwan mendukung kemerdekaan Taiwan dari China, sementara 69% memilih status quo, dan 6% mendukung penyatuan dengan China. (NIA)
Penulis: Ahmad Dwiantoro