Bahlil menambahkan, saat ini terdapat lebih dari 40 ribu sumur tua yang sedang dalam proses pengaktifan kembali, dan sebagian perizinannya sudah diterbitkan.
"Seperti di Jambi, Sumatera Selatan, dan Jawa Tengah, izinnya sudah keluar agar bisa segera memberikan kontribusi terhadap peningkatan lifting," katanya.
Langkah kedua dilakukan melalui intervensi teknologi pada lapangan-lapangan produksi yang sudah ada, guna meningkatkan perolehan minyak dari sumur yang masih aktif.
Upaya ini dinilai cukup efektif untuk menahan laju penurunan produksi alamiah (natural decline).
Bahlil melanjutkan, pemerintah juga mendorong percepatan realisasi Plan of Development (POD) yang sudah disetujui agar dapat segera masuk tahap produksi. Kementerian ESDM telah memanggil seluruh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) guna memastikan percepatan investasi dan eksekusi proyek.
"Yang POD-nya sudah selesai, kita minta segera percepatan. Semua KKKS sudah kita panggil untuk memastikan ini berjalan," kata Bahlil.
Bahlil menegaskan, meskipun insiden kebocoran pipa sempat memengaruhi capaian lifting minyak, pemerintah optimistis produksi dapat dikejar melalui kombinasi reaktivasi sumur, penerapan teknologi, dan percepatan proyek hulu migas.
Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target lifting yang telah ditetapkan dalam APBN.
(Nur Ichsan Yuniarto)