IDXChannel – Bagaimana sejarah resesi ekonomi di Indonesia? Pertanyaan ini menjadi penting sejak beberapa negara mengalami resesi akibat pandemi Covid-19 selama beberapa tahun terakhir. Sedikitnya ada sembilan negara yang telah mengalami resesi karena pandemi Covid-19. Beberapa negara tersebut antara lain Amerika Serikat (AS), Jerman, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Filipina.
Lalu, bagaimana dengan sejarah resesi ekonomi di Indonesia? IDXChannel merangkumnya sebagai berikut.
Sejarah Resesi Ekonomi di Indonesia
Resesi merupakan penurunan signifikan kegiatan ekonomi selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Resesi juga dinilai sebagai bagian yang tak terhindarkan dari siklus perekonomian di dunia.
Selama pandemi Covid-19 melanda seluruh negara di dunia, kegiatan perekonomian negara-negara di dunia mengalami gejolak. Tidak terkecuali Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 minus sebesar 5,32 persen. Hal ini berarti jika tren minus tersebut berlangsung hingga kuartal III tahun 2020, maka Indonesia akan mengalami sebuah resesi ekonomi.
Namun, menurut Laporan World Economic Outlook (WEO) International Monetary Fund (IMF) edisi Januari 2022 yang dilansir dari laman resmi Kemenkeu.go.id, Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,9% di tahun 2021.
Meski terbebas dari resesi ekonomi tahun ini, rupanya indonesia pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang minus ini sejak masa kemerdekaannya.
Pertumbuhan Ekonomi Minus Indonesia pada 1998
Menurut data BPS tahun 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I tahun 1998 mengalami minus sebesar 12,23 persen dibandingkan semester yang sama tahun 1997. Menurut Kepala BPS pada masa itu, Sugito Suwito, hampir semua sektor mengalami pertumbuhan negatif, kecuali sektor pertanian.
BPS kemudian melakukan koreksi terhadap pertumbuhan ekonomi untuk periode Januari sampai September 1998 dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi menjadi 13,59 persen. Pertumbuhan ekonomi yang minus ini bahkan berlangsung hingga akhir tahun. Selanjutnya, BPS menyebut secara agregat perekonomian Indonesia mengalami kontraksi sebesar 13,45 persen dibandingkan tahun 1997 pada November 1998.