Faktor Penurunan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 1998
Menurut laporan tahun 1998, faktor dominan penyebab minusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1998 disebabkan karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah. Rupiah mengalami depresiasi hingga lebih dari 80 persen sejak awal Juli sehingga menyebabkan beban ekonomi yang berlebih pada negara.
Ambruknya nilai rupiah ini sangat menyulitkan terutama untuk membiayai impor barang dan pembayaran utang negara. Sehingga tak heran, jika Indonesia memiliki utang luar negeri yang fantastis pada tahun 1998 yakni mencapai USD138 miliar. Dari jumlah tersebut, sebanyak USD20 miliar utang luar negeri Indonesia jatuh tempo pada tahun yang sama. Padahal, Indonesia hanya memiliki cadangan devisa sebanyak USD14,44 miliar pada saat itu.
Ekonomi Indonesia Pasca Pandemi Covid-19
Dilansir dari Kemenkeu.go.id, meski sempat mengalami pertumbuhan ekonomi minus pada kuartal II tahun 2020, namun ekonomi Indonesia menguat di tahun 2021 dan 2022. Kuatnya Perekonomian Indonesia ini dinilai akan berlanjut hingga tahun 2023 mendatang. Hal ini tidak terlepas dari keberhasilan Indonesia dalam penanganan pandemi sehingga pemulihan ekonomi Indonesia relatif cepat.
Kebijakan penanganan pandemi dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang efektif di 2021 serta fokus penciptaan tenaga kerja selain kesehatan dan perlindungan masyarakat di 2022, menjadi faktor penting pertumbuhan ekonomi.
Itulah sejarah resesi ekonomi di Indonesia sejak merdeka yang berhasil dirangkum IDXChannel dari berbagai sumber. Indonesia perlu menjaga pertumbuhan ekonominya tetap positif dengan memperkuat kebijakan di berbagai sektor.