Sehingga, total produksi nikel global diperkirakan mencapai 5,0 juta metrik ton pada 2035. Selain unggul di sektor hulu, Indonesia juga tengah memimpin industri hilirisasi dengan penguasaan 45 persen pada pangsa pengolahan (refining) nikel global.
"Pertumbuhan pesat ini akan meningkatkan kebutuhan industri terhadap mitra kontraktor tambang yang berkualitas. Dengan melihat potensi ini, kami berkomitmen untuk menjaga kualitas operasional serta mempererat kemitraan strategis," ujar Gahari.
Selama delapan tahun berdiri, Gahari menjelaskan, pihaknya selalu fokus pada penyediaan solusi end-to-end, mulai dari fase eksplorasi, produksi, hingga tahap reklamasi.
Operasionalnya tersebar di wilayah strategis (multi-site), mencakup Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Halmahera Timur.
Jangkauan ini mendapat dukungan kemitraan strategis dengan entitas terkemuka seperti Grup Harum Energy, Bukit Asam, dan Grup Petrindo.
"Portofolio kontrak secara berkelanjutan menjadi bukti nyata dari kemahiran kami dalam mengeksekusi project. Saat ini kami mengelola sejumlah kontrak operasional strategis, termasuk kerja sama dengan PT Satria Bahana Sarana di wilayah operasi PT Bukit Asam Tbk," ujar Gahari.
Memasuki 2026, Andalan Artha Primanusa terus memperkuat posisi dengan mengamankan berbagai kontrak baru di sektor operasional batubara., yang mencakup pekerjaan dari PT Daya Bumindo Karunia, PT Intan Bumi Persada, dan PT Arkara Prathama Energi.