Pemerintah juga terus memperkuat enam mesin pertumbuhan baru, yakni hilirisasi dan upstreaming, swasembada energi, ekosistem bulion dan bank emas, pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam, digitalisasi termasuk semikonduktor dan artificial intelligence (AI), serta pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri.
Dari sisi investasi, pemerintah mendorong hilirisasi dan upstreaming melalui berbagai proyek bernilai tambah. Hingga saat ini, terdapat 26 proyek groundbreaking yang masuk dalam agenda tersebut dan diharapkan dapat memperkuat rantai nilai industri di dalam negeri.
Sementara itu, dari sisi energi, pemerintah telah mengimplementasikan program B50 sejak 1 Juli 2026. Pemerintah juga mengembangkan ekosistem bank emas (bullion bank) yang saat ini mengelola sekitar 179 ton emas dengan nilai sekitar Rp360 triliun.
Airlangga menambahkan pemerintah juga memperluas akses pasar melalui diplomasi ekonomi. Indonesia saat ini memiliki 25 perjanjian dagang yang telah diratifikasi, sedangkan 13 perjanjian lainnya masih dalam proses perundingan.
“Dengan fundamental ekonomi yang kuat, kebijakan fiskal yang prudent, kebersamaan antara Pemerintah dan dunia usaha, kami ingin mendorong bahwa ke depan kita bisa menjaga ketahanan perekonomian dan juga mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan inklusif. Karena kalau kita memang ingin negara kita ini maju dan sejahtera, kita harus tumbuh lebih tinggi,” kata Airlangga.
(Rahmat Fiansyah)