Sehingga, dikatakan Burhanuddin, upaya pelonggaran yang dilakukan terlalu dini justru bisa memicu tekanan pada rupiah, dan ongkosnya bagi pertumbuhan justru lebih mahal.
Di lain pihak, meski tekanan eksternal menguat, satu hal positif yang perlu dicatat adalah mulai pulihnya kinerja sektor manufaktur.
"Pelemahan rupiah membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global, meski sekaligus menaikkan biaya bahan baku dan impor energi. PMI Manufaktur S&P Global naik dari 52,4 pada September 1 of 3 menjadi 54,0 pada Oktober 2026, tertinggi sejak Maret 2024, dengan pesanan ekspor baru tumbuh tercepat sejak survei dimulai pada 2011," ujar Research Director Prasasti, Adhi N Saputro, dalam kesempatan yang sama.
Namun, menurut Adhi, survei yang sama mencatat biaya input naik lebih cepat akibat harga bahan bakar, sementara penyerapan tenaga kerja melambat.
Sementara, ekspor industri pengolahan naik 16,78 persen (YoY) pada September. Sepanjang triwulan III-2026, kenaikan ekspor manufaktur terutama berasal dari produk turunan sawit dan elektronik.