sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pendapatan Negara Tembus Rp1.545 Triliun di Juli 2024

Economics editor Tangguh Yudha
13/08/2024 21:30 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pendapatan negara telah mencapai Rp1.545,4 triliun hingga Juli 2024.
Pendapatan Negara Tembus Rp1.545 Triliun di Juli 2024. (Foto MNC Media)
Pendapatan Negara Tembus Rp1.545 Triliun di Juli 2024. (Foto MNC Media)

IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pendapatan negara telah mencapai Rp1.545,4 triliun hingga Juli 2024. Menurutnya, capaian ini 55,1 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024.

Dalam konferensi APBN KITA yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa (13/8/2024), Menkeu menyebut, tren ini menunjukan kinerja penerimaan negara lebih baik dan mencatatkan pertumbuhan positif dari realisasi sebelumnya.

Dirinya menjelaskan, tren tersebut itu berasal dari penerimaan PPN dan PPnBM yang mengalami pertumbuhan sebesar 7,34 persen secara bruto atau setara Rp402,16 triliun, serta PBB dan pajak lainnya yang tumbuh sebesar 4,14 persen atau mencapai Rp10,07 triliun.

Meski demikian, terdapat juga penerimaan pajak yang mengalami kontraksi seperti PPh Non Migas dan PPh migas akibat pelemahan harga komoditas dan penurunan lifting minyak bumi.

“Ekonomi tumbuh meskipun ada beberapa institusi yang menyebabkan penerimaan netonya mengalami penurunan. Namun, dari sisi bruto pertumbuhannya cukup baik,” kata dia.

Berdasarkan jenis pajaknya, Menkeu melaporkan mayoritas tumbuh positif seiring dengan aktivitas ekonomi yang terjaga. PPh 21 tumbuh positif yaitu sebesar 26,6 persen, PPh 22 impor tumbuh 5,6 persen, PPN impor tumbuh 4,5 persen, dan diikuti dengan pertumbuhan dari PPh OP, PPH 26, PPH final dan PPN DN.

Selain penerimaan pajak, Menkeu juga menyampaikan penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai yang mencapai Rp154,4 triliun atau setara 48,1 persen dari total target APBN 2024. Meski begitu, penerimaan bea dan cukai menunjukkan perkembangan yang bervariasi.

Bea masuk tumbuh positif sebesar 2,1 persen atau Rp29,0 triliun dikarenakan nilai impor yang meningkat. Penerimaan bea keluar juga mengalami pertumbuhan tinggi sebesar Rp9,3 triliun atau tumbuh 58,1 persen secara year on year (yoy).

“Kontribusi terbesar berasal dari tembaga yang tumbuh 9,28 persen. Namun, untuk sawit, penerimaan masih menurun 60 persen karena harga CPO turun 5,9 persen yoy dari USD865 menjadi USD814 per ton, dan volume ekspor turun 15,48 persen dari 24,01 juta ton menjadi 20,29 juta ton,” katanya.

Selain itu, penerimaan cukai juga mengalami pertumbuhan positif sebesar Rp116,1 triliun atau sebesar 0,5 persen atau secara keseluruhan setara dengan 47,2 persen dari target APBN 2024.

Adapun pertumbuhan itu berasal dari penerimaan cukai HT yang tumbuh sebesar 0,1 persen, cukai EA tumbuh sebesar 21,8 persen, serta cukai MMEA (Minuman Mengandung Etil Alkohol) juga tumbuh sebesar 10,6 persen berkat perubahan tarif dan peningkatan produksi.

“Sementara, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga masih terjaga baik. Kita mendapatkan Rp338 triliun yang artinya 68,7 persen dari target, dibandingkan dengan tahun lalu yang sangat tinggi karena PNBP dari SDA baik yang migas maupun non-migas,” ujar dia.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement