Anindya menambahkan, sistem pengadaan pemerintah juga berperan penting dalam memperkuat perekonomian nasional melalui kebijakan yang mendorong penggunaan produk dalam negeri serta keterlibatan pelaku usaha.
Dia menyebut sekitar 90 persen pengadaan pemerintah berpihak pada produk dalam negeri (PKDN), sementara sekitar 40 persen melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Di sisi lain, Anindya juga menyoroti tantangan ekonomi global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang sempat mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga mendekati USD130 per barel.
Menurutnya, kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal negara. Ia menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar USD10 di atas asumsi USD70 per barel berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp100 triliun.
“Setiap kita naik USD10 di atas asumsi USD70, itu kurang lebih Rp100 triliun tambahan defisit,” ujarnya.