AALI
8025
ABBA
228
ABDA
0
ABMM
810
ACES
1355
ACST
216
ACST-R
0
ADES
1845
ADHI
870
ADMF
7975
ADMG
152
ADRO
1310
AGAR
412
AGII
1020
AGRO
1355
AGRO-R
0
AGRS
346
AHAP
64
AIMS
420
AIMS-W
0
AISA
210
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
3130
AKSI
468
ALDO
775
ALKA
240
ALMI
254
ALTO
376
Market Watch
Last updated : 2021/06/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
460.95
-1.6%
-7.48
IHSG
6007.12
-1.01%
-61.33
LQ45
863.16
-1.64%
-14.36
HSI
28801.27
0.85%
+242.68
N225
28964.08
-0.19%
-54.25
NYSE
16411.65
-1.47%
-244.16
Kurs
HKD/IDR 1,850
USD/IDR 14,360
Emas
827,066 / gram

Pengeluaran Saat Ramadan Sering Meningkat, Ini Cara Atur Keuangannya

ECONOMICS
Hafid Fuad/Koran Sindo
Kamis, 22 April 2021 10:14 WIB
Kenaikan jumlah atau frekuensi belanja merupakan faktor internal yang seharusnya bisa kita kontrol.
Kenaikan jumlah atau frekuensi belanja merupakan faktor internal yang seharusnya bisa kita kontrol. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pengeluaran di bulan puasa cenderung meningkat bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.  Kenaikan harga tidak bisa dihindari.  Bagaimana cara yang bijak dalam mengelola keuangan di sepanjang bulan Ramadan dan juga cara mengelola uang THR? 

Penasihat untuk Wealth and Asset Management Indonesia (WAM Indonesia) Legowo Kusumonegoro mengingatkan masyarakat harus mengendalikan hawa nafsu.Menurutnya tidak sedikit orang yang mengeluh bahwa pengeluarannya justru membengkak di sepanjang bulan Ramadan.  

Pada dasarnya ada dua faktor penyebab naiknya pengeluaran, yaitu naiknya harga di sepanjang Ramadan dan menjelang Lebaran, serta naiknya jumlah pembelanjaan. Kenaikan harga atau inflasi, misalnya harga berbagai komoditas pangan, merupakan faktor eksternal yang diluar kontrol kita. Sementara kenaikan jumlah atau frekuensi belanja merupakan faktor internal yang seharusnya bisa kita kontrol. "Namun, godaan atau lapar mata sering kali menjadi penyebab jebolnya anggaran," kata Legowo di Jakarta (22/4/2021).

Selain itu, terkadang orang suka memberikan hadiah atas keberhasilan anak atas keberhasilannya menunaikan ibadah puasa.  Alasan lainnya adalah karena ingin melanjutkan tradisi, seperti membeli baju dan sendal/sepatu baru, mudik, bagi-bagi angpao atau bingkisan, bukber (sebelum pandemi), dan lain-lain.  "Jika seluruh keinginan ini tidak di-rem atau cenderung menuruti hawa nafsu tanpa adanya pengelolaan keuangan yang benar, sangat mungkin akan berujung pada lilitan utang. Padahal, esensi berpuasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu," jelasnya.

Berikut adalah sangat tidak disarankan berutang untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, termasuk untuk keperluan Lebaran. Karena manusia sangat pintar dalam menyesuaikan diri. Maka, lakukan konsumsi atau pembelanjaan sesuai dengan kemampuan.  Manfaatkan dan syukuri rejeki, termasuk THR, dengan sebaik-baiknya. "Cukup tidak cukup ya harus dicukup-cukupi. Tahan hawa nafsu.  Nikmatilah puasa dan Lebaran dengan penuh rasa syukur, kesederhanaan, dan kebersamaan," jelasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD