Dalam data perubahan Indeks Perkembangan Harga (IPH) minggu kedua Mei, daging ayam ras mencatatkan penurunan IPH pada 232 kabupaten/kota. Sementara telur ayam ras lebih banyak lagi dengan penurunan IPH pada 246 kabupaten/kota. Kedua produk ternak unggas tersebut memang mencatatkan deflasi pada April lalu.
"Kita masih bersyukur bahwa inflasi year on year masih di angka 2,42 persen di bulan April. Namun bulan Mei ini kita harus mengamati betul perkembangan dari dampak terutama kenaikan harga minyak dan juga kurs mata uang," kata Mendagri Tito.
Guna ada eskalasi supaya tak terjadi deflasi yang terdalam pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras, pemerintah terus bergerak melaksanakan intervensi mulai dari hulu sampai hilir. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menjelaskan pentingnya keseimbangan dan kewajaran harga.
"Kami akan lakukan intervensi justru (terhadap) rendahnya harga ayam ras tingkat peternak. Ini di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sudah 8 persen. Kemudian telur ayam ras sudah 8 persen. Ini sudah berteriak teman-teman (peternak) ini. Ini yang akan kami dorong juga mengembalikan (kewajaran). Ini dibawah HAP tapi harus naikkan lagi, tentu akan berdampak pada IPH," kata Ketut.
Dalam pantauan harga di tingkat produsen sampai 17 Mei, rerata harga secara nasional untuk ayam pedaging hidup berada di Rp22.783 per kilogram (kg) atau 8,87 persen dibawah HAP yang ditetapkan di Rp25.000 per kg. Sementara telur ayam ras berada di Rp24.356 per kg atau 8,09 persen dibawah HAP Rp26.500 per kg.