Lebih lanjut, dia merincikan, beban tambahan ini akan dirasakan langsung oleh sektor angkutan khusus seperti transportasi daring, taksi, hingga jasa travel yang mayoritas mengonsumsi Pertamax. Konsumen sendiri berada dalam posisi sulit karena tidak memiliki kemampuan untuk mengecek apakah pengantaran barang yang mereka beli benar-benar menggunakan BBM non-subsidi atau tidak.
Tekanan terhadap kelas menengah ini juga diprediksi akan mengubah perilaku konsumsi bahan bakar secara drastis dalam waktu dekat. Demi menghemat pengeluaran, masyarakat kemungkinan besar akan berbondong-bondong beralih ke Pertalite, yang pada akhirnya dapat mengancam ketersediaan stok bahan bakar subsidi tersebut di lapangan.
"Kita prediksi akan banyak masyarakat yang migrasi ke Pertalite yang pada akhirnya stok Pertalite akan dibatasi dan memicu perlambatan konsumsi rumah tangga," ujar dia.
Nailul menyimpulkan, inflasi yang timbul dari ekspektasi masyarakat ini harus segera diwaspadai oleh pemerintah. Jika daya beli terus tergerus akibat kenaikan harga barang yang tidak terkendali, pertumbuhan ekonomi nasional di sektor konsumsi rumah tangga dipastikan akan melambat secara signifikan.