Oki mengatakan soal Pertamina tidak hanya fokus pada peningkatkan produksi hidrogen semata. Lebih dari itu, perseroan tengah membangun fondasi ekosistem yang bertumpu pada empat aspek utama, yaitu penguatan regulasi, pengembangan teknologi, dukungan pembiayaan, serta penyediaan sarana infrastruktur yang terintegrasi.
"Khusus untuk infrastruktur, kami berharap dapat mengoptimalkan pemanfaatan aset-aset strategis nasional sehingga pengembangan hidrogen dapat dilakukan secara lebih efisien, kompetitif, dan ekonomis," katanya.
Peta jalan pengembangan hidrogen Pertamina kini telah menyebar di sejumlah wilayah Indonesia. Di Plaju, Sumatera Selatan, Pertamina mengoperasikan proyek percontohan produksi hidrogen berbasis energi surya berkapasitas 20 kilogram per hari.
Sementara di Lampung, fasilitas produksi green hydrogen berbasis panas bumi ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada November mendatang dengan kapasitas 100 kilogram per hari.
Di Pulau Jawa, Pertamina bersama sejumlah mitra menggarap ekosistem hydrogen mobility di Jakarta. Adapun di Jawa Barat, Pertamina mengantongi dukungan hibah dari Pemerintah Korea Selatan untuk mengembangkan proyek pengolahan sampah dan limbah cair menjadi biogas, yang selanjutnya diproses menjadi hidrogen.
Pengembangan hidrogen yang dieksekusi Pertamina juga menjangkau kawasan timur Indonesia. Di Sulawesi, perseroan mengeksplorasi potensi hidrogen alami. Sedangkan di Maluku dan Papua, Pertamina menginisiasi proyek blue ammonia bersama mitra strategis untuk menyokong kebutuhan industri sekaligus menangkap peluang pasar ekspor.
(Nur Ichsan Yuniarto)