Dari sisi domestik, Huda memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 hanya mampu mencapai 4,7 persen.
Dia menilai, daya dorong ekonomi melemah akibat sejumlah faktor, mulai dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), meningkatnya biaya produksi yang menekan konsumsi rumah tangga, hingga berkurangnya stimulus dari sektor konstruksi.
Selain itu, mesin pertumbuhan ekonomi yang selama dua tahun terakhir banyak ditopang oleh belanja pemerintah mulai kehilangan daya dorong. Kondisi tersebut diperparah dengan normalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta terbatasnya ruang fiskal.
"Pertumbuhan ekonomi pada 2027 paling tinggi berada di angka 4,7 persen karena tidak ada lagi mesin pengungkit pertumbuhan ekonomi tahun depan setelah pengeluaran pemerintah habis digunakan di tahun 2025-2026," kata Huda.
Dia juga menyoroti beban pembayaran utang Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang dinilai dapat mengurangi ruang belanja di tingkat desa.