AALI
9925
ABBA
290
ABDA
7000
ABMM
1370
ACES
1275
ACST
196
ACST-R
0
ADES
3440
ADHI
840
ADMF
7625
ADMG
186
ADRO
2300
AGAR
364
AGII
1430
AGRO
1325
AGRO-R
0
AGRS
168
AHAP
71
AIMS
364
AIMS-W
0
AISA
175
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1110
AKRA
795
AKSI
795
ALDO
1365
ALKA
308
ALMI
290
ALTO
250
Market Watch
Last updated : 2022/01/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
510.01
1.04%
+5.23
IHSG
6690.56
0.96%
+63.69
LQ45
953.17
1.04%
+9.83
HSI
24878.63
-0.3%
-73.72
N225
27522.26
-0.9%
-250.67
NYSE
16663.77
-0.92%
-155.21
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,345
Emas
849,207 / gram

Perusahaan Minyak Masih Tahan Gelontorkan Investasinya di RI, Ini Sebabnya

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Kamis, 02 Desember 2021 16:42 WIB
Para perusahaan minyak menginginkan adanya perbaikan iklim investasi hulu migas nasional.
Perusahaan Minyak Masih Tahan Gelontorkan Investasinya di RI, Ini Sebabnya (FOTO: MNC Media)
Perusahaan Minyak Masih Tahan Gelontorkan Investasinya di RI, Ini Sebabnya (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Para investor di sektor minyak dan gas bumi (migas) masih menahan gelontorkan investasinya di Indonesia. Pasalnya, para perusahaan minyak menginginkan adanya perbaikan iklim investasi hulu migas nasional.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, penurunan produksi migas di dalam negeri sudah cukup lama terjadi. Untuk itu, perlu dorongan investasi agar produksi migas bisa kembali meningkat.

"Investasi menjadi kunci untuk meningkatkan produksi migas. Saat ini perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) memang sedang kesulitan karena pandemi. Investor masih wait and see sebelum menggelontorkan investasinya," ujarnya dalam Market Review IDX Channel, Kamis (2/12/2021).

Moshe melanjutkan, penurunan investasi hulu migas juga sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan revolusi kebijakan fiskal dan sistem kontrak kerja sama yang lebih ramah investasi.

"Permasalahan penurunan nilai investasi itu sudah lama. Jadi bukan karena semata-mata pandemi. Memang pandemi ini memperparah tapi investasi di bidang migas di Indonesia ini, apalagi foreign direct investment itu memang menurun dari tahun ke tahun," ungkapnya.

Di sisi lain, Indonesia juga harus bersaing dengan negara lain untuk menarik investasi hulu migas ke dalam negeri. Dia menilai pemerintah perlu strategi marketing dan benchmarking dengan negara-negara produsen lainnya untuk menarik lebih banyak investasi migas ke Indonesia.

"Itu yang harus pemerintah sadar bagaimana memperbaiki iklim investasi di migas ini. Kita lihat kenapa investor lebih suka masuk ke negara lain daripada negara kita. Mungkin ada sesuatu yang bisa ditawarkan lebih bagus dibandingkan negara lain," tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM Mustafid Gunawan mengatakan,tantangan yang saat ini dialami industri migas Indonesia adalah menarik kembali minat investor dan memperbanyak usaha eksplorasi. Upaya-upaya yang saat ini dilakukan adalah memberikan kemudahan-kemudahan, seperti akses data, akses lelang dan perbaikan terms and conditions.

"Kemarin kami telah membuka lelang wilayah kerja (WK) migas dengan terms and condition yang lebih baik, seperti split atau bagi hasil yang lebih menarik, FTP menjadi 10% shareable, penerapan harga DMO 100% selama kontrak dan ketentuan baru relinquishment (tidak ada pengembalian sebagian area di tahun ke-3 kontrak). Kami juga berharap kemudahan akses data dapat meningkatkan investor untuk berinvestasi di Indonesia," ujarnya. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD