"Kelangsungan hidup suatu bangsa antara lain ditentukan oleh tiga hal. Pertama, mampukah bangsa itu menghasilkan pangannya untuk rakyat sendiri. Kedua, mampukah bangsa itu memiliki energi sumber energi sendiri, tidak tergantung bangsa lain. Yang ketiga, mampukah negara itu juga memiliki sumber air," ujarnya.
Sebelum diluncurkan, uji coba B50 terhadap mesin kendaraan sudah dilakukan. Hasil uji coba terhadap beberapa sampel kendaraan seperti alat berat, kereta api, kapal, hingga kendaraan bermotor menunjukkan 80-90 persen punya nilai yang cukup baik sehingga siap untuk dijual komersial ke masyarakat luas.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan B50 punya kualitas yang lebih baik dibanding pendahulunya B40. Hal tersebut dia nilai lewat kandungan kadar air B50 yang lebih rendah dibanding B40 sehingga memudahkan pembakaran pada mesin.
Kehadiran B50 ini diharapkan mampu menekan impor BBM utamanya jenis solar. Dia menyebut kebijakan ini diambil sebagai langkah survival untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah konflik di Timur Tengah.
"Ini sudah menjadi kebijakan negara, ini survival mode. Supaya kita tidak tergantung pada global terhadap BBM kita, khususnya untuk solar," ujar Bahlil, Jumat (10/4/2026).