Kekhawatiran akan peningkatan impor kembali menguat melihat realisasi semester pertama 2026. Data Januari hingga Juni 2026 menunjukkan volume impor 12 komoditas utama telah mencapai 14,7 juta ton, meningkat dari periode yang sama di 2025 yang tercatat sebesar 13,1 juta ton.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa secara akumulatif, angka impor pangan nasional berpotensi kembali melonjak hingga akhir tahun 2026.
Belum mampu sepenuhnya Indonesia mencapai kemandirian pangan ini juga tecermin dari program swasembada bawang putih yang dicanangkan sejak 2017. Kebijakan mewajibkan importir menanam lima persen dari kuota impor tersebut terbukti tidak berjalan efektif di lapangan.
"Bawang putih membutuhkan lahan di atas ketinggian delapan ratus meter yang harus berebut dengan komoditas bernilai tinggi seperti kentang dan cabai, belum lagi biaya produksi lokal mencapai dua puluh satu ribu rupiah per kilogram sedangkan harga impor hanya delapan ribu rupiah," papar Dwi.
Dwi menambahkan, ketidakmampuan bersaing ini membuat impor bawang putih terus meroket, dari 450 ribu ton pada 2014 menjadi 660 ribu ton pada 2021. Pola ketergantungan serupa juga menjangkiti sektor daging sapi dan kerbau, di mana sekitar 50 persen kebutuhan nasional atau setara 300 ribu hingga 400 ribu ton per tahun harus didatangkan dari luar negeri.