Untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara mandiri, Indonesia dinilai membutuhkan ketersediaan lahan peternakan yang jauh lebih luas.
Hambatan serupa juga ditemui pada sektor peternakan sapi potong yang hingga kini masih mengandalkan pasokan impor hingga lima puluh persen dari total kebutuhan. Harga daging lokal sulit bersaing karena metode pemeliharaan di dalam negeri membutuhkan biaya operasional yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara pengekspor.
"Di Australia dan Selandia Baru, memelihara sapi itu hanya dilepas di lahan luas dengan pakan rumput gratis, sehingga harga daging impor jauh lebih murah dibanding memelihara sapi dengan sistem feedlot di Indonesia," tutur Dwi. (Febrina Ratna Iskana)