Penjajakan bisnis ini juga mencerminkan sinergi yang kuat antara perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri dan Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan dalam membuka akses pasar baru. Keterlibatan pemerintah dalam proses penjajakan memberikan keyakinan tambahan bagi calon importir Arab Saudi untuk menjalin kerja sama dengan pelaku usaha Indonesia.
Lebih lanjut, Bagas menilai masyarakat Arab Saudi memiliki tingkat konsumsi yang tinggi terhadap produk olahan boga bahari dan makanan olahannya, terutama produk beku yang praktis, memiliki masa simpan lebih panjang, serta menawarkan harga yang kompetitif. Selain produk berbahan dasar daging ayam, sapi, dan kambing yang telah umum dikonsumsi, produk boga bahari menjadi alternatif sumber protein yang semakin diminati untuk memenuhi kebutuhan variasi konsumsi masyarakat Arab Saudi.
Tren tersebut membuka peluang yang menjanjikan bagi produk olahan perikanan Indonesia yang dikenal memiliki kualitas baik dan cita rasa yang beragam. Selain aspek kualitas produk, kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan berbagai sertifikasi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Arab Saudi yang terus berkembang.
Perdagangan Indonesia-Arab Saudi
Total perdagangan Indonesia-Arab Saudi pada Januari—April 2026 mencapai USD1,58 miliar. Ekspor Indonesia ke Arab Saudi sebesar USD675,8 juta dan impor dari Arab Saudi sebesar USD912,1 juta.
Sebelumnya, pada 2025, total perdagangan Indonesia-Arab Saudi mencapai USD 6,52 miliar. Ekspor Indonesia ke Arab Saudi tercatat USD2,88 miliar. Sementara itu, impor Indonesia dari Arab Saudi sebesar USD3,64 miliar. Ekspor utama Indonesia ke Arab Saudi kendaraan dan bagiannya, lemak dan minyak hewan/nabati, kapal laut, berbagai makanan olahan, serta kayu dan barang dari kayu. Sementara itu, impor Indonesia dari Arab Saudi di antaranya, yaitu garam, belerang, kapur, plastik dan barang dari plastik, bahan Kimia organik, berbagai produk Kimia, dan buah-buahan.