sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Purbaya Pastikan Belum Ubah APBN usai Harga Minyak Naik

Economics editor Anggie Ariesta
10/03/2026 18:43 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan belum akan mengubah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara menyusul masih berfluktuasinya harga minyak dunia
Purbaya Pastikan Belum Ubah APBN usai Harga Minyak Naik (FOTO:iNews Media Group)
Purbaya Pastikan Belum Ubah APBN usai Harga Minyak Naik (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan belum akan mengubah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menyusul masih berfluktuasinya harga minyak dunia

Purbaya menekankan, APBN masih mampu menahan kenaikan harga minyak yang sempat menyentuh USD100 per barel usai serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. 

"Kita masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh. Rata-rata setahun 70 asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saja," kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/3/2026). 

"Jadi belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Jadi kita masih bisa absorb," katanya.  Adapun, pengubahan alokasi anggaran dalam APBN tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dia mengatakan perlu ada analisa khusus untuk menentukannya, termasuk berapa lama harga minyak diprediksi merangkak naik dan turun. 

Terlebih, hingga minyak kini kembali menurun dalam waktu cepat setelah Presisen AS Donald Trump mengumumkan perang tidak akan berlangsung lama. 

"Jadi kita lihat pastikan, betul enggak naik, betul nggak turun. Begitu beberapa hari, beberapa minggu naik. Ya sudah kita bisa antipasti naik terus. Ini kan enggak, naik, tiba-tiba turun lagi," ujarnya.

Purbaya tidak ingin, pengubahan anggaran dilakukan terburu-buru tanpa analisis yang tepat. Hal ini akan membuat pemerintah perlu mengubah anggaran kembali, ketika kondisi berubah normal.

"Nanti kalau harga minyak turun, kita ubah lagi. Repot kan. Jadi menetapkan respon APBN itu lebih hati-hati dibanding dengan merespons gerakan saham. Jadi (kalau saham), volume-nya, range-nya, horizon-nya pendek sekali. Jadi nggak seperti itu kita manage anggaran," kata Purbaya.

"Enggak bisa, sekarang ini bisa berubah lagi, sekarang ini bisa berubah lagi. Capek lah gue, kerjanya ngerubah-rubah anggaran terus. Jadi kita pastikan seperti apa gerakannya. Setelah pasti, baru kita ajak semuanya," katanya. 

Diketahui, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memberikan tekanan pada harga minyak dunia dan kenaikan nilai tukar mata uang terhadap dollar AS. 

Gejolak tersebut sempat mendorong harga minyak dunia menembus di atas USD100 per barel sejak Minggu (8/3/2026). Selain itu, pada awal perdagangan Senin (9/3/2026), nilai tukar rupiah menembus level Rp17.000 per USD. 

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement