sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Purbaya Sebut Butuh Waktu Stabilkan Rupiah

Economics editor Anggie Ariesta
14/05/2026 12:20 WIB
Kementerian Keuangan tidak bisa melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing, melainkan melalui SBN.
Purbaya Sebut Butuh Waktu Stabilkan Rupiah (Foto: iNews Media Group)
Purbaya Sebut Butuh Waktu Stabilkan Rupiah (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku membutuhkan waktu untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

Pasalnya, Kementerian Keuangan tidak bisa melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing, melainkan melalui penguatan pasar Surat Berharga Negara (SBN) atau bond market.

"Itu kan perlu waktu. Kita kan enggak masuk ke pasar dolar langsung. Tapi kita hanya menjaga stabilitas bond market," ujar Purbaya di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Purbaya menilai, stabilitas di pasar obligasi merupakan kunci agar tekanan terhadap mata uang Garuda tidak semakin dalam.

Langkah tersebut dapat dilakukan secara perlahan guna memastikan imbal hasil obligasi tetap menarik bagi investor. “Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti," katanya. 

Purbaya mengeklaim saat ini kondisi pasar obligasi mulai menunjukkan tren positif seiring dengan kembalinya minat investor asing ke pasar domestik.

“Asing juga masuk sih. Ini kayaknya bond-nya sudah mulai stabil lagi. Dan kita lihat ke depan seperti apa. Tapi yang jelas kita monitor kondisi di pasar bond sekarang," ujar Purbaya.

Pemerintah juga mempertimbangkan opsi pembelian kembali (buyback) SBN di pasar sekunder. Purbaya telah memberikan instruksi kepada Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) untuk menyiapkan teknis pelaksanaan yang kemungkinan akan berjalan selama beberapa bulan ke depan.

Di sisi lain, Purbaya memastikan bahwa merosotnya nilai tukar rupiah ke level Rp17.500 per USD belum mengganggu postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya terkait subsidi energi. 

Hal ini dikarenakan pemerintah telah melakukan simulasi risiko dengan parameter harga minyak yang cukup tinggi.

"Terus rupiah itu dampaknya apa? Waktu kita hitung kemarin 120 per barrel, ya rupiahnya dekat-dekat situ, jadi enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang,"  katanya.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement